Rabu, 24 Juni 2009

Keluarga Kristen, Pikullah Salibmu!



Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dalam hidup orang-orang percaya. Sakralitas pernikahan menuntut keluarga-keluarga Kristen hidup dalam kesaksian yang memuliakan Allah, saat hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk. Dan juga, Tuhan menghendaki setiap keluarga Kristen hidup dalam kasih karunia dan damai sejahtera. Mengapa? Karena Allah sudah menguduskan mereka di dalam Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Dalam iman Kristen, janji pernikahan bukanlah sekadar kata-kata kosong yang mudah diucapkan. Hakikat pernikahan selalu menuntut pengurbanan diri dan komitmen 100%, disertai kesetiaan dan ketulusan hati untuk menabur-pupuki ”ikatan kudus” itu dengan keutamaan (virtue) sepanjang hidup. Komitmen ini membutuhkan cinta kasih yang dewasa. Pada tingkatan ekstrem, keutuhan rumah tangga juga harus siap dipertahankan entah apa pun dan berapa pun harganya!
Oleh sebab itu, suatu pernikahan hakikatnya tidak pernah dimaksudkan sebagai ajang coba-coba. ”Eh, siapa tahu kita cocok. Jika nanti banyak kesulitan, toh masih terbuka pilihan bubar jalan.” Pernikahan Kristen yang sejati sudah pasti tidak seperti itu. Karena pernikahan Kristen adalah satu pengakuan iman, bahwa ”Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm 127:1).
Sebagian orang berkeras hati dan memaksakan diri untuk menikah meskipun tanpa kesatuan iman yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus. Maka sudah pasti, mereka melanggar hukum Allah dan desain Allah mengenai suatu pernikahan. Dan lagi, pernikahan bukanlah ajang peruntungan, suatu ”perjudian” dengan mengurbankan iman secara murahan! Di negara kita yang mayoritas penduduk berkepercayaan lain, sejumlah pesohor yang tadinya ”Kristen” rela mencederai diri sendiri secara demikian. Harus diingat bahwa kita hanya berasumsi bahwa mereka sebelumnya memiliki iman itu __ kenyataannya, kebanyakan mereka sesungguhnya dari semula masih di luar Yesus. Pernikahan mereka akhirnya kandas dan bubar secara menyedihkan bahkan memalukan!
Salib di dalam keluarga
Bagi kita yang setia pada iman yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus, tersedia kuasa salib-Nya, yang menopang dan memampukan kita untuk hidup memuliakan Allah. Sedikit pun tidak pernah kita memberi celah atau pilihan untuk mengingkari Tuhan Sang Penebus kita. Sebab Tuhan tidak pernah memperlakukan kita begitu murahan. Maka, sudah sepantasnyalah kita membalas kemurahan-Nya dengan ketaatan total kepada-Nya.
Sudah pasti Tuhan memampukan kita mengatasi berbagai kesulitan hidup pernikahan dan rumah tangga. Dalam hal ini, kita harus rela memikul salib masing-masing. Sejak saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah memberi kami penghasilan tetap sepanjang 14 tahun (hingga September 2007), kami pernah mengalami hidup dengan keuangan dua kali lipat penghasilan saya dalam organisasi Kristen tersebut. Namun, kami juga mengalami saat-saat yang pengap ketika keuangan di tangan hanya 1/3 dari penghasilan terakhir dalam organisasi itu.
Menyusul krisis keuangan global melanda dunia, tidak sedikit keluarga Kristen ikut terimbas dampaknya. Gelombang PHK terjadi di berbagai negara, termasuk di negara kita. Bagaimana pun orang-orang percaya tidak hidup di dalam ruang hampa, bebas dari kesulitan. Namun, kita dipanggil untuk bersikap ikhlas hati dalam menerapkan keutamaan kita, disertai kesadaran akan salib, sehingga kita tidak berkeluh kesah atau menggerutu di tengah kesusahan sekarang.
Keluarga-keluarga Kristen, marilah kita memikirkan dan melakukan sesuatu yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain di dalam keluarga kita __ mungkin itu suami, istri, atau anak-anak. Apakah ”sesuatu” yang jika kita lakukan, itu akan membuat keluarga kita lebih merasakan kasih karunia Tuhan? Apakah yang mendatangkan damai sejahtera meskipun itu berarti melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, misalnya suami ikut beres-beres rumah, mendampingi anak-anak, dan melakukan apa saja yang meringankan pergumulan keluarga. (S. Heru Winoto, S.Th adalah dosen teologi pada Bandung Literature and Biblical Studies (STT BLBS) dan Pengajar di SOW)

1 komentar:

  1. syalom, tq buat sharing nya ya pak, Gbu, tetap setia dalam Tuhan,tetap semangat. Kalau boleh dan ada waktu silahkan kunjungi tulisan saya, semoga dapat menolong memberikan input, tq

    BalasHapus