Senin, 13 Juli 2009

Menjadi Kaya dari Menulis

Judul di atas mungkin akan dianggap oleh sebagian orang terlalu berlebihan. Lha hidup layak dari menulis saja cukup sulit. Mungkin Anda mengenal penulis yang hidupnya serba susah karena mengandalkan honor dari menulis saja. Banyak orang tua yang keningnya langsung berkerut waktu mengetahui anaknya tercinta bercita-cita menjadi penulis. Madesu atau masa depan suram sudah terbayang di benak orang tua tersebut. Bagi sebagian orang profesi penulis masih dipandang sebelah mata.
Judul di atas tidak mengada-ada. Banyak penulis yang bisa menjadi orang kaya. Berlimpah ruah materi. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika Anda ingin kaya dari menulis atau sedikitnya hidup berkecukupan dari menulis.
1. Buku yang Anda tulis laris manis.
Mungkin ini adalah syarat yang paling susah dipenuhi. Anda mungkin berpikir bahwa buku yang laris adalah buku yang memiliki kualitas sangat baik, masterpiece. Salah. Belum tentu. Tidak semua buku yang laris adalah masterpiece. Buku yang berkualitaspun belum tentu terjual banyak. Memang, walaupun begitu, buku dengan kualitas baik memiliki kemungkinan lebih besar menjadi laris. Jadi, ada banyak kemungkinan buku Anda akan menjadi buku laris.
2. Anda cukup produktif menulis buku.
Jika Anda memiliki buku Best Seller Anda pantas bersyukur. Tetapi seberapa banyak sih sebuah buku yang dinyatakan best seller laku terjual di Indonesia.
Apalagi jika kita melihat kondisi di Indonesia yang sangat rendah minat bacanya. Suatu buku yang disebut best seller oplahnya hanya ada di kisaran angka ribuan. Paling banter puluhan ribu. Ini lebih sedikit lagi kalau buku tersebut adalah buku non fiksi. Cara mensiasati hal ini adalah dengan produktif menulis buku.
3. Anda memiliki penghasilan yang merupakan side effect dari tulisan Anda.
Tentu Anda pernah melihat banyak profesional yang menulis buku. Pernah saya menanyakan apa sih motivasinya menulis buku. Ia menjawab, bagi-bagi ilmu, sekalian mempromosikan keahliannya. Royalti sama sekali tidak ada di dalam jawabannya. Nilainya tidak sebanding dengan waktu, tenaga yang harus dicurahkan untuk menulis buku. Dengan menulis buku ia akan mendapatkan kredibilitas yang makin mendorong bisnisnya.
4. Anda harus menjual diri Anda sendiri.
Bukan jamannya lagi seorang penulis adalah seorang yang menyendiri, tenggelam dalam kesibukkannya menulis dan melupakan hubungan dengan dunia luar.
Seorang penulis pernah berkata bahwa karena ia bukan seorang yang bisa berbicara dengan baik makanya ia menjadi penulis. The worst thing, ia hanya menulis dan menulis, dan tidak pernah muncul di dunia. Jika Anda memiliki kesempatan, berinteraksilah dengan lngkungan, berbicaralah dengan siapapun. Semakin banyak Anda dikenal, semakin banyak kesempatan orang akan membeli buku Anda. Jika Anda hanya menulis dan menulis, hanya faktor luck yang akan membantu buku Anda laku di pasaran. Orang yang datang ke toko buku, dan melihat buku baru Anda dipajang di etalase toko buku, akan berkata "Who the hell is the writer". Semakin sering Anda menulis juga akan mendongkrak nama Anda, tetapi prosesnya akan lama. Berbeda jika nama Anda sudah dikenal sebelumnya.
Jika Anda enggan atau tidak nyaman bertemu dengan orang dan berbicara. Gunakan kemampuan teknologi seperti chat, email, blog, untuk berkomunikasi dengan orang lain. (Ditulis oleh Didik Wijaya)

Senin, 06 Juli 2009

Mengembangkan Ide Menjadi Tulisan


Membuat tulisan tanpa ide, saya rasa tidak mungkin jadi. Setiap tulisan yang dibuat pasti memiliki ide terlebih dahulu. Ide merupakan suatu gagasan terhadap topik tertentu yang muncul secara tiba-tiba. Seringkali diibaratkan seperti kelinci. Maksudnya dia dengan cepat muncul, dan dengan cepat pula akan lenyap, apabila kita tidak segera menangkapnya. Oleh karena itu apabila ide itu sedang muncul dalam benak pikiran kita, cepatlah tangkap. Bagaimana caranya, "tuliskan". Menuliskan ide yang muncul tiba-tiba tersebut. Catat pada sebuah buku (block note) atau pada komputer kita. Biarkan saja ide itu dituliskan apa adanya. Baru kemudian setelah semua isi ide itu dituangkan. Kita bisa mengedit dengan cara menambahkan data-data atau mengurangi bagian yang tidak diperlukan.

Apabila Anda hendak belajar lebih lanjut mengenai penulisan, daftarkan diri Anda sebagai peserta SOW. Hubungi kami di 081394401799 atau penerbitagape@gmail.com.

Rabu, 01 Juli 2009

Membaca itu Penting

“Saya pilih menjadi orang miskin yang tinggal di pondok penuh buku daripada menjadi raja yang tak punya hasrat untuk membaca.”
Thomas Babington Macaulay (1800-1859), sejarawan Inggris.
Membaca merupakan aktifitas yang menyenangkan sekaligus mencerahkan. Membaca membantu kita lebih berwawasan, sukses dan hidup lebih baik. Tetapi ternyata kegemaran membaca belum dimiliki mayoritas orang, sebab mereka belum mengerti berjuta manfaat dari membaca. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari membaca, yang mungkin dapat menggugah semangat dan kemauan Anda untuk melahap isi buku-buku bacaan.
1. Membaca membangun pondasi yang kuat untuk dapat mempelajari dan memahami berbagai disiplin ilmu sekaligus mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Senang membaca meningkatkan kecerdasan verbal dan lingusitik karena membaca memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata.
3. Membaca mencegah rabun mata, karena membaca melatih dan mengaktifkan otot-otot mata.
4. Membaca mencegah kepikunan karena melibatkan tingkat konsentrasi lebih besar, mengaktifkan dan menyegarkan pikiran.
5. Kegemaran membaca membantu meningkatkan kecerdasan, serta meningkatkan daya kreatifitas dan imajinasi.
6. Membaca membantu memperbaiki rasa percaya diri, mengembangkan kemampuan memanajemen emosi dan meningkatkan kemampuan melakukan interaksi sosial positif dimanapun dan kapanpun.
7. Membaca membentuk karakter dan kepribadian, sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan, “Apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun yang akan datang”.
8. Membaca menjadikan kita lebih dewasa, lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Membaca adalah kegiatan yang sarat manfaat dan sangat penting dalam kehidupan kita. Banyak orang sukses dan cerdas dikarenakan kecintaan mereka membaca buku dan belajar. Oleh sebab itu tingkatkan intensitas membaca terutama di waktu senggang Anda, dan berikut ini adalah beberapa hal menarik untuk membangkitkan semangat membaca.
1. Sesuaikan tingkat bacaan dengan tingkat kosa kata, sebab keengganan meneruskan bacaan seringkali dikarenakan kita sulit memahami arti katanya.
2. Luangkan waktu secara rutin untuk membaca, misalnya setengah jam per hari, karena langkah ini lambat laun akan meningkatkan kemampuan memahami berbagai gaya tulisan dan kosa kata baru.
3. Mencoba menulis tentang apapun yang dianggap menarik, misalnya tentang perasaan, pengalaman, cara memandikan kucing, menanam pohon , memasak kue dan lain sebagainya. Mencoba menulis akan meningkatkan minat membaca.
4. Berusaha menggunakan waktu untuk membaca dengan selalu membawa bahan bacaan dimanapun berada. Simpan buku atau majalah dalam tas, ruang keluarga atau tempat yang sering Anda gunakan, sehingga memungkinkan Anda menjangkau dan membaca.
5. Tentukan berapa banyak buku yang ingin Anda baca dalam kurun waktu tertentu. Mulailah memasang target dengan disiplin tinggi, karena langkah ini melatih kemampuan meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca lebih banyak hal.
6. Buatlah daftar buku yang sudah Anda baca dan catatan isi buku tersebut. Simpanlah catatan tersebut dengan rapi di tempat favorit Anda, misalnya di buku harian, di komputer, di lemari, dan lain sebagainya.
7. Matikan televisi, karena televisi tidak mengajak kita aktif belajar dan berpikir kreatif. Daripada waktu terbuang untuk memindah channel televisi mencari acara televisi yang bagus, bisa jadi waktu tersebut sudah cukup banyak untuk menyelesaikan membaca sebuah buku.
8. Bergabunglah dengan kelompok baca, dimana dalam periode tertentu para anggotanya berkumpul untuk mendiskusikan topik bacaan yang telah sama-sama tentukan sebelumnya. Berkomitmen terhadap kelompok baca memberikan momentum yang lebih besar untuk menyelesaikan bacaan buku, dan menciptakan forum yang luar biasa untuk berdiskusi dan bersosialisasi seputar tema buku.
9. Sering-seringlah mengunjungi toko buku atau perustakaan, karena kesempatan melihat-lihat buku akan melatih mental membaca sebagai kebutuhan dan menginspirasi banyak hal baru yang menarik untuk dibaca.
10. Bangunlah strategi, yaitu dengan menentukan sendiri cara yang baik menurut Anda untuk meningkatkan aktifitas membaca, sehingga Anda semakin rajin membaca dan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari buku yang Anda baca.
Kembangkan terus minat baca Anda, karena membaca dapat meningkatkan kemampuan, terutama kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana. Tingkatkan intensitas membaca dengan memanfaatkan waktu luang semaksimal mungkin untuk membaca. Membaca merupakan salah satu investasi yang baik dari waktu kita.
*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best-seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

MENULIS BUKU ROHANI


Budaya menulis menjadi barang langka. Orang lebih senang bicara secara lisan ketimbang melalui tulisan. Mengapa? Sebab kalau ngomong itu tidak perlu dikonsep dulu, bisa langsung keluar ibarat air mengalir. Bahkan kalau disuruh bicara sampai tiga jam, lancar saja dan tanpa masalah.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sangat minimnya buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit di Indonesia, apalagi untuk kategori buku rohani. Hanya bisa dihitung dengan jari. Coba saja perhatikan, setiap kali diadakan pameran buku yang biasa diadakan setahun sekali oleh Ikatan Penerbit Indonesia Jawa Barat (IKAPI Jabar), dari seluruh stan yang tersedia, 85% stan diisi oleh penerbit Islam, 14% oleh penerbit nasionalis, dan 1% oleh penerbit Kristen. Paling-paling hanya penerbit ANDI dan KANISIUS saja yang terlibat. Itupun mereka lebih banyak menjual buku-buku Filsafat atau buku komputer. Buku rohaninya hanya dihitung jari. Sangat menyedihkan sekali.
Dari penulis rohani pun, saya mengamati bahwa hanya sedikit saja penulis lokal yang menulis buku. Sebagian besar buku-buku yang diterbitkan merupakan buku terjemahan dari penulis asing. Sangat memprihatinkan bukan? Waktu saya sharing dengan bagian marketing PBMR ANDI mereka mengatakan bahwa perbandingan antara penulis lokal dan penulis asing adalah 1:4, artinya 1 buku karya penulis lokal berbanding 4 buku karya penulis asing. Bagaimana dunia penulisan rohani di Indonesia bisa maju, bila kondisinya seperti ini.
Di luar negeri, katanya setiap mahasiswa harus membuat satu buku dahulu baru bisa lulus. Jauh berbeda dengan di Indonesia, jangankan mahasiswanya, guru besarnya saja belum tentu sudah menuliskan sebuah buku. Jangan heran bila ketinggalan jauh dengan mereka.

Menulis Buku
Menulis itu mudah saja. Menurut saya, menulis adalah seni mengungkapkan isi hati. Semua isi hati kita dituangkan dalam bentuk sebuah tulisan. Setelah semua tulisan tersebut tersusun, barulah kita memilah-milah, bagian mana yang masih bisa dipakai, bagian mana yang harus dibuang, dan bagian mana yang harus ditambahkan. Proses ini yang dinamakan editing.
Sebelum menulis buku, tentukan terlebih dahulu jenis buku apa yang hendak ditulis. Buku text book (buku ilmiah) atau buku populer. Masing-masing memiliki kriteria tersendiri. Biasanya buku-buku ilmiah harus memiliki sumber kepustakaan yang mendukung dan merupakan hasil riset. Sedangkan, untuk buku-buku populer bisa tanpa dukungan buku lain.
Ada banyak orang memiliki kerinduan menjadi penulis buku, namun mereka hanya berkhayal saja. Kepada setiap orang dia bercerita bahwa dia akan menulis sebuah buku dengan judul ini, dan isinya itu. Namun, tanpa pernah sedetikpun berdiam, untuk menuliskannya. Sampai kapanpun buku tersebut tidak akan jadi. Hanya ada dalam imajinasi pikirannya.

Syarat menjadi penulis buku, antara lain:
Pertama, suka membaca buku atau majalah.
Kedua, suka menulis.
Ketiga, memiliki daya kreativitas.
Keempat, tidak cepat bosan dan patah semangat.

Beberapa bagian yang perlu diperhatikan dalam membuat buku, seperti:
Pertama, kata pengantar (sangat baik apabila ada prakata terlebih dahulu dari
orang yang dianggap ahli dibidangnya).
Kedua, daftar isi (merupakan garis besar isi buku).
Ketiga, bagian-bagian isi buku (bab-bab)
Keempat, daftar pustaka (sumber pendukung)
Kelima, profil penulis.
Keenam, cover (depan dan belakang)

Menulis Buku Rohani
Menulis buku rohani berbeda dengan menulis buku umum. Perbedaannya tidak terlalu banyak, namun bisa berdampak besar bila tidak diperhatikan. Letak perbedaannya adalah dalam isi dan tujuan yang hendak dicapai dari buku tersebut apabila sudah diterbitkan. Bila buku umum bertujuan hanya untuk mencerdaskan dari segi akal, tapi sisi rohaninya tidak diperhatikan. Berbeda dengan buku rohani, tidak sekadar mencerdaskan akalnya, tapi rohaninya juga harus bisa dibangun. Bahkan, jauh dari itu, supaya para pembacanya dimenangkan bagi Kristus. Dengan kata lain, ada misi tersembunyi dibalik isi buku rohani tersebut, yakni memenangkan si pembaca bagi Kristus.

Persyaratan menjadi penulis buku rohani, yaitu:
Pertama, memiliki kerinduan untuk membuat rohani pembaca bertumbuh.
Kedua, ide tulisan bersumber dari Alkitab.
Ketiga, menjangkau yang terhilang agar dibawa kembali kepada Kristus.
Keempat, bersifat sharing, berbagi pengalaman.

Cara termudah untuk membuat buku rohani adalah BUATLAH SEBUAH ARTIKEL, SETIAP HARI SATU HALAMAN. Kemudian kumpulkan artikel tersebut, dan susunlah berdasarkan kelompoknya. Setelah itu, sudah siap menjadi sebuah tulisan untuk dijadikan sebuah buku. Cara inilah yang pernah dipraktekkan oleh John C Maxwell. Setiap hari dia menuliskan sebuah artikel satu halaman. Secara konsisten dia menuliskan artikel tersebut dengan judul yang berbeda, selama 365 hari. Jadi, di akhir tahun, artikel yang dia tuliskan sudah mencapai 365 buah. Dan kumpulan artikel ini dia pilah dan golongkan berdasarkan topiknya. Akhirnya jadilah sebuah buku dengan tebal 365 halaman. Buku yang tebal bukan? Anda mau mencobanya, silakan saja.

Sekarang, silakan Anda mencoba!

Ikuti langkah berikut:

1. Buatlah buku yang sesuai dengan bidang yang kita kuasai.
2. Tentukan judulnya (judul bisa berubah). Judul harus memiliki nilai jual.
3. Buatlah garis besarnya (ini bisa dipakai untuk daftar isi). Bisa dengan bantuan mapping map (peta konsep).
4. Carilah sumber-sumbernya untuk mendukung penulisan buku kita agar lebih berbobot.
5. Mulailah menulis (tentukan deadlinenya).
6. Silakan baca dan koreksi lagi.
7. Tambahkan bila ada yang diperlukan, dan buang bila tidak perlu.
8. Mulai buat pengantar, pra-kata, daftar isi, kepustakaan, dan profil.
9. Buat pra-cetaknya.
10. Siap dicetak.
11. Siap dipasarkan.

Sangat mudah bukan?
Selamat mencoba dan menjadi penulis buku rohani best seller.

(ditulis oleh Tony Tedjo sebagai bahan dalam Seminar Praktis: Menulis Buku Rohani, bertempat di Gd. Kharisma Jl. BKR 98 A Bandung, 6 Juni 2009. Seminar ini diadakan atas kerjasama Badan Pengurus Mahasiswa STT KHARISMA Bandung dengan Sekolah Menulis Alkitabiah/SOW)

Selasa, 30 Juni 2009

SEPULUH LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEBIASAAN MENULIS

Ada dikatakan demikian: "Jika Anda dapat menciptakan kebiasaan menulis, Anda akan memiliki fondasi yang kuat sebagai seorang penulis."

Jika Anda kesulitan mengusahakan waktu yang cukup untuk menulis, atau terus menunda-nundanya, atau nampaknya tidak pernah mulai menulis meskipun Anda sudah merencanakannya, Anda harus berusaha menciptakan kebiasaan menulis. Pikirkanlah hal ini sejenak -- jika Anda dapat menulis dengan konsisten selama satu jam (atau dua jam) dalam sehari:
- Anda akan banyak menulis dalam jangka waktu sebulan, atau setahun. Jumlah tulisan Anda akan sangat banyak.
- Anda akan memenuhi tenggat waktu menulis, karena Anda tidak menunda-nunda untuk menulis.
- Kualitas tulisan Anda akan meningkat, karena Anda banyak berlatih menulis.
- Anda akan merasa bahwa tulisan Anda bagus, dan karenanya Anda akan terus termotivasi untuk menulis.
- Anda akan mengatasi masalah perang dan kelaparan dengan kejeniusan tulisan Anda.

Poin yang terakhir mungkin agak berlebihan, namun secara pribadi, saya mengalami empat poin pertama. Menulis sudah menjadi kebiasaan dan hasrat saya, dan saya sudah melakukannya cukup lama. Meski tidak semua kata yang saya tulis itu brilian dan memesona, saya dapat dengan bangga mengatakan bahwa saya sudah banyak menulis untuk banyak publikasi. Pada tahun terakhir saja, sebagai "blogger", penulis blog lepas, dan komentator untuk banyak blog, saya barangkali sudah menulis lebih dari 1.000 postingan tulisan. Itu belum termasuk tulisan yang saya tulis di pekerjaan dan di luar dunia blog.
Kebiasaan saya cukup sederhana: saya memiliki dua atau tiga hal yang benar-benar ingin saya tulis setiap hari, dan saya menulisnya sedini mungkin setiap hari. Biasanya 2 hingga 4 jam setiap hari (kadang lebih). Menulis adalah prioritas saya, dan dalam banyak hal, menulis banyak memberi saya manfaat.
Para penulis adalah para penunda-nunda yang tidak populer. Tapi kita tidak perlu menjadi seperti itu jika kita menciptakan kebiasaan menulis. Berikut adalah langkah-langkah yang cocok untuk saya; langkah-langkah yang juga saya gunakan untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan lain:

1. Tulis kebiasaan menulis Anda.

Jika Anda tidak berkomitmen untuk menuliskan kebiasaan menulis, Anda tidak benar-benar berkomitmen untuk membentuk kebiasaan tersebut. Jika Anda ingin membentuk suatu kebiasaan menulis, Anda harus benar-benar berkomitmen untuk melakukannya. Bukan kalimat "akan saya usahakan", namun "saya benar-benar akan menulis". Dan Anda harus menuliskan komitmen tersebut lalu memasangnya di tempat-tempat yang dapat Anda lihat dengan mudah. Secara spesifik, tulis kebiasaan seperti apa yang akan Anda lakukan (dalam hal ini menulis). Kapan, di mana, dan untuk berapa lama Anda akan melakukannya? Tuliskanlah semua itu.

2. Menulislah setiap hari pada waktu yang sama, dengan pemicu.

Akan baik jika Anda memiliki waktu tertentu setiap hari untuk mulai menulis. Saya lebih suka di pagi hari, namun bisa juga saat makan siang, atau sesaat sebelum tidur. Pastikan bahwa waktu itu adalah waktu yang tidak akan dijejali oleh aktivitas lain -- jika Anda sering mendapat panggilan rapat setiap sore, misalnya, jangan menetapkan waktu itu sebagai waktu menulis Anda (kecuali Anda memiliki otoritas untuk tidak mengikuti rapat itu).
Yang sama pentingnya dengan memiliki waktu khusus untuk menulis adalah memiliki pemicu. Apakah pemicu itu? Ini adalah suatu peristiwa yang akan mendorong Anda untuk melakukan kebiasaan itu. Misalnya, ketika dulu saya merokok, saya memiliki beberapa pemicu: saya akan merokok saat bangun tidur, stres, setelah rapat, dan sebagainya. Ketika saya ingin mengubah kebiasaan tersebut, saya harus mengubah beberapa pemicu itu, sehingga saya memiliki kebiasaan yang baru untuk menggantikan kebiasaan merokok. Ketika bangun tidur, misalnya, saya akan berolahraga.
Untuk menciptakan kebiasaan baru, kita harus berusaha keras menghubungkan kebiasaan tersebut dengan pemicu. Contohnya, katakan saja Anda ingin menulis pada pagi hari -- Anda akan bangun dari tempat tidur, mandi, membuat kopi, dan kemudian mulai menulis. Jadi, membuat kopi adalah pemicu untuk Anda menulis, dan mandi adalah pemicu untuk Anda membuat kopi, dan bangun dari tempat tidur adalah pemicu untuk Anda mandi. Dan karena Anda pasti akan bangun dari tempat tidur setiap hari, jadi Anda tidak akan memiliki masalah menerapkan hal ini. Pilih sebuah pemicu yang Anda tahu akan Anda lakukan setiap hari, dan kemudian menulislah.

3. Berkomitmenlah kepada orang lain.

Seperti yang telah dituliskan di atas, adalah penting untuk memiliki komitmen yang kuat guna membentuk kebiasaan menulis. Untuk itu, akan membantu jika komitmen itu sifatnya tidak pribadi. Umumkanlah komitmen Anda kepada banyak orang. Beritahu keluarga, teman-teman, rekan kerja Anda, tulis dalam situs blog Anda, kirimkan ke sebuah forum diskusi online, dan sebagainya. Katakan dengan jelas apa yang akan Anda lakukan, dan berjanjilah untuk melaporkan kepada mereka hal-hal yang telah Anda lakukan (lihat butir nomor 6 di bawah). Hal ini akan memotivasi Anda untuk tetap melakukan kebiasaan menulis.

4. Fokuslah selama 1 bulan.

Salah satu kunci untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah fokus. Jika Anda benar-benar fokus untuk membentuk kebiasaan menulis, Anda akan sukses (terutama jika Anda mengombinasikannya dengan beberapa tips lain dalam artikel ini). Jika Anda mencoba untuk menciptakan banyak kebiasaan baru dalam satu waktu sekaligus, fokus Anda akan tersebar. Jangan terjerat pada jebakan yang lazim ada namun menggoda ini. Kerahkan seluruh fokus dan energi Anda untuk membentuk kebiasaan baru dalam menulis.

5. Temukan motivasi Anda.

Apa alasan Anda melakukan kebiasan menulis? Apa yang memotivasi Anda untuk duduk dan menulis? Apa yang dapat membuat Anda tetap termotivasi ketika Anda sedang tidak ingin menulis? Mengetahui apa yang menjadi motivasi Anda itu penting -- dan sangat baik jika Anda menuliskannya.

6. Catat dan bertanggungjawablah.

Sangat penting mencatat kebiasaan baru Anda. Hal termudah yang dapat Anda lakukan adalah dengan memberikan tanda "X" di kalender Anda setiap kali Anda menulis. Atau Anda bisa juga menyiapkan sebuah lembar kerja untuk mencatat waktu dan tanggal, dengan catatan kecil ketika Anda menulis. Ini dapat menjadi alat untuk membantu Anda melacak apakah tujuan Anda sudah tercapai atau belum. Atau Anda bisa juga membuat catatan dalam blog pribadi; dengan menuliskan tulisan singkat dalam blog Anda setiap kali Anda selesai menulis. Forum diskusi online merupakan cara yang baik pula untuk mencatat apa yang sudah Anda lakukan. Cara apapun yang Anda pakai, lakukanlah itu dengan konsisten dan segera lakukan pencatatan setiap kali Anda selesai menulis. Bagikanlah catatan Anda tersebut kepada orang lain sebagai bentuk pertanggungjawaban Anda kepada orang lain.

7. Tentukan penghargaan diri.

Penghargaan adalah motivator yang luar biasa. Sering-seringlah memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika Anda baru mulai berusaha membentuk kebiasaan menulis: berikan satu hadiah kecil untuk diri sendiri pada hari pertama Anda menulis, kemudian pada hari yang kedua dan ketiga. Setelah itu, berikan hadiah kepada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 minggu. Lalu kurangi lagi, Anda akan memberikan hadiah pada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 bulan. Buat daftar penghargaan sebelum Anda mulai menulis, jadi Anda dapat melihat hadiah apa saja yang dapat Anda terima jika Anda mulai menulis.

8. Disiplin.

Semakin konsisten Anda menulis, semakin kuat kebiasaan itu jadinya. Pastikan kebiasaan Anda terhubung kuat dengan pemicu Anda, sehingga setiap kali pemicunya terjadi, Anda akan melakukan kebiasaan Anda. Itulah yang membentuk suatu kebiasaan. Jika pemicunya terjadi, dan kadang Anda tidak melakukan kebiasaan Anda, maka Anda tidak benar-benar membentuk sebuah kebiasaan. Jadi, daripada Anda menyalahkan diri kelak, lebih baik Anda benar-benar disiplin. Karena sekali Anda tidak melakukan kebiasaan itu, kemungkinan Anda akan melakukannya lagi lain waktu. Jika Anda merasa sedang tidak ingin menulis hari ini, katakan pada diri Anda dengan tegas: "Disiplin!"
Apa yang akan terjadi jika karena beberapa alasan, Anda tidak melakukan kebiasaan Anda? Jangan lantas menyalahkan diri Anda sendiri. Analisa dan cari tahu mengapa hal itu sampai terjadi dan cari solusinya agar tidak terjadi lagi. Kemudian maju terus. Membentuk suatu kebiaaan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun jika Anda disiplin, Anda akan berhasil.

9. Mencari inspirasi.

Motivator terbaik adalah inspirasi. Ketika saya membentuk kebiasaan baru, saya suka membaca pengalaman-pengalaman sukses orang lain. Saya akan membaca buku, majalah, situs, dan blog dengan topik tersebut. Lakukanlah hal yang sama saat menulis --carilah inspirasi, tetapi jangan membiarkan kegiatan membaca tersebut menghambat Anda untuk menulis.

10. Jadikan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Yang terpenting, jika kebiasaan itu tidak menyenangkan, Anda akan sering kehilangan motivasi. Mencoba disiplin memang penting, tapi pada akhirnya, motivasilah yang merupakan faktor pentingnya. Anda tidak dapat memaksa motivasi. Jadi, carilah cara untuk membuat kebiasaan menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bisa dengan memutar musik atau menenggak secangkir kopi atau teh saat Anda menulis. Menulislah dengan ditemani sesuatu yang Anda sukai. (t/Davida diambil dari e-Penulis edisi 56 tgl.17-6-2009)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Nama situs: Write to Done
Judul asli artikel: 10 Steps to Create the Habit of Writing
Penulis: Tidak dicantumkan
Alamat URL: http://writetodone.com/2008/01/09/10-steps-to-create-the-habit-of-writing/

Rabu, 24 Juni 2009

Keluarga Kristen, Pikullah Salibmu!



Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dalam hidup orang-orang percaya. Sakralitas pernikahan menuntut keluarga-keluarga Kristen hidup dalam kesaksian yang memuliakan Allah, saat hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk. Dan juga, Tuhan menghendaki setiap keluarga Kristen hidup dalam kasih karunia dan damai sejahtera. Mengapa? Karena Allah sudah menguduskan mereka di dalam Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Dalam iman Kristen, janji pernikahan bukanlah sekadar kata-kata kosong yang mudah diucapkan. Hakikat pernikahan selalu menuntut pengurbanan diri dan komitmen 100%, disertai kesetiaan dan ketulusan hati untuk menabur-pupuki ”ikatan kudus” itu dengan keutamaan (virtue) sepanjang hidup. Komitmen ini membutuhkan cinta kasih yang dewasa. Pada tingkatan ekstrem, keutuhan rumah tangga juga harus siap dipertahankan entah apa pun dan berapa pun harganya!
Oleh sebab itu, suatu pernikahan hakikatnya tidak pernah dimaksudkan sebagai ajang coba-coba. ”Eh, siapa tahu kita cocok. Jika nanti banyak kesulitan, toh masih terbuka pilihan bubar jalan.” Pernikahan Kristen yang sejati sudah pasti tidak seperti itu. Karena pernikahan Kristen adalah satu pengakuan iman, bahwa ”Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm 127:1).
Sebagian orang berkeras hati dan memaksakan diri untuk menikah meskipun tanpa kesatuan iman yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus. Maka sudah pasti, mereka melanggar hukum Allah dan desain Allah mengenai suatu pernikahan. Dan lagi, pernikahan bukanlah ajang peruntungan, suatu ”perjudian” dengan mengurbankan iman secara murahan! Di negara kita yang mayoritas penduduk berkepercayaan lain, sejumlah pesohor yang tadinya ”Kristen” rela mencederai diri sendiri secara demikian. Harus diingat bahwa kita hanya berasumsi bahwa mereka sebelumnya memiliki iman itu __ kenyataannya, kebanyakan mereka sesungguhnya dari semula masih di luar Yesus. Pernikahan mereka akhirnya kandas dan bubar secara menyedihkan bahkan memalukan!
Salib di dalam keluarga
Bagi kita yang setia pada iman yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus, tersedia kuasa salib-Nya, yang menopang dan memampukan kita untuk hidup memuliakan Allah. Sedikit pun tidak pernah kita memberi celah atau pilihan untuk mengingkari Tuhan Sang Penebus kita. Sebab Tuhan tidak pernah memperlakukan kita begitu murahan. Maka, sudah sepantasnyalah kita membalas kemurahan-Nya dengan ketaatan total kepada-Nya.
Sudah pasti Tuhan memampukan kita mengatasi berbagai kesulitan hidup pernikahan dan rumah tangga. Dalam hal ini, kita harus rela memikul salib masing-masing. Sejak saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah memberi kami penghasilan tetap sepanjang 14 tahun (hingga September 2007), kami pernah mengalami hidup dengan keuangan dua kali lipat penghasilan saya dalam organisasi Kristen tersebut. Namun, kami juga mengalami saat-saat yang pengap ketika keuangan di tangan hanya 1/3 dari penghasilan terakhir dalam organisasi itu.
Menyusul krisis keuangan global melanda dunia, tidak sedikit keluarga Kristen ikut terimbas dampaknya. Gelombang PHK terjadi di berbagai negara, termasuk di negara kita. Bagaimana pun orang-orang percaya tidak hidup di dalam ruang hampa, bebas dari kesulitan. Namun, kita dipanggil untuk bersikap ikhlas hati dalam menerapkan keutamaan kita, disertai kesadaran akan salib, sehingga kita tidak berkeluh kesah atau menggerutu di tengah kesusahan sekarang.
Keluarga-keluarga Kristen, marilah kita memikirkan dan melakukan sesuatu yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain di dalam keluarga kita __ mungkin itu suami, istri, atau anak-anak. Apakah ”sesuatu” yang jika kita lakukan, itu akan membuat keluarga kita lebih merasakan kasih karunia Tuhan? Apakah yang mendatangkan damai sejahtera meskipun itu berarti melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, misalnya suami ikut beres-beres rumah, mendampingi anak-anak, dan melakukan apa saja yang meringankan pergumulan keluarga. (S. Heru Winoto, S.Th adalah dosen teologi pada Bandung Literature and Biblical Studies (STT BLBS) dan Pengajar di SOW)

Minggu, 21 Juni 2009

HUKUM KARMA DAN HUKUM TABUR TUAI


Orang-orang percaya pada saat ini lebih mengenal hukum karma dibandingkan hukum tabur tuai. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena hampir di setiap acara TV, disajikan tampilan-tampilan yang menayangkan baik langsung maupun tidak langsung mengenai hukum karma.

Apa itu karma?
Karma adalah apapun yang anda lakukan baik itu secara ragawi maupun melalui jalan pikiran, dari pagi hingga malam, sepanjang hari, bulan, tahun dan seumur hidup anda, semenjak anda lahir sampai mati.
Tahap-tahap karma sebagai berikut: Pertama, kriyama karma, yang berarti sebuah tindakan dilakukan pada saat ini secara instant kemudian menghasilkan pahala dan akibat pada saat ini juga; Kedua, sanchit karma (karma komulatif), yaitu karma atau tindakan yang pernah dilaksanakan pada saat atau waktu-waktu yang lalu, namun belum matang pahalanya jadi tertunda sampai saatnya kelak, sampai pada suatu saat tertentu yang tepat. Selama belum tiba saatnya, maka karma ini bersifat balans dan terkumpul terus; Ketiga, prarabdha karma, berarti hasil dari semua tindakan sanchit karma yang telah matang, akan menghasilkan pahala. Biasanya fenomena ini oleh manusia awam disebut kebetulan, nasib, keberuntungan, takdir, kodrat, dsb.
Ada dua macam karma, yaitu karma baik dan karma buruk. Karma baik adalah segala perbuatan atau pikiran yang mengarah kepada hal yang baik. Sedangkan karma buruk adalah segala perbuatan atau pikiran yang mengarah kepada hal yang buruk. Karma baik atau karma buruk ini dikumpulkan oleh seseorang selama dia hidup, untuk menentukan wujud kelahiran jiwa kembali di masa mendatang. Oleh karena itu, karma berkaitan erat dengan reinkarnasi. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Hidup manusia sekarang dipengaruhi oleh perbuatan di masa lalu, dan kehidupan yang akan datang dipengaruhi oleh kehidupan masa sekarang.
Reinkarnasi adalah proses kelahiran kembali di masa mendatang. Orang Hindu percaya bahwa mereka akan lahir kembali sebanyak 8.400.000 kali sebelum jiwanya dapat selamat dari perangkap samsara. Samsara berarti "mengembara" dan menunjuk pada pengembaraan jiwa dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, dari masa kehidupan yang satu ke masa kehidupan yang lain, dari lahir, hidup, sampai mati.
Kitab Bhagavad Gitta mengajarkan bahwa melakukan perbuatan amal dan hidup dengan tidak mementingkan diri sendiri, merupakan satu-satunya cara supaya dapat dilahirkan kembali dengan sedikit mungkin karma. Karma yang buruk memastikan bahwa jiwa manusia akan kembali pada kehidupan yang akan datang dengan tingkat yang lebih rendah.
Seseorang akan terlepas dari hukum karma apabila dia sudah terlepas dari roda kehidupan, yang disebut moksa.

Apa itu hukum tabur tuai?
Dalam Alkitab kita mengenal sebuah hukum yang hampir sama dengan hukum karma, namun sebenarnya berbeda jauh. Hukum ini dinamakan hukum tabur tuai. "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Galatia 6:7). Setiap perbuatan yang ditaburkan seseorang semasa dia hidup, pada beberapa waktu kemudian dia akan menuainya, inilah yang dinamakan hukum tabur tuai. Seperti halnya seorang petani padi. Benih-benih padi yang sudah dia taburkan dalam beberapa waktu kemudian akan menguning dan siap untuk dituai. Tidak mungkin benih padi yang ditaburkan, yang dituai gandum. Contoh lain yang nyata dari hukum tabur tuai adalah coba Anda tersenyum dan mengatakan selamat pagi kepada seseorang yang ditemui di jalan. Pasti secara langsung orang tersebut akan membalas dengan senyuman dan berkata "selamat pagi juga." Ini merupakan akibat langsung dari perbuatan yang sudah dilakukan. Untuk membuktikan hal lain, coba Anda cemberut kepada seseorang, maka dia akan balas memberikan muka cemberut kepada kita.
Alkitab banyak menuliskan mengenai hukum tabur tuai. "Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam" (Kejadian 8:22). "Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliuang" (Hosea 87a). "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga" (II Korintus 9:6).
Contohnya dalam kisah Haman dalam Ester 5:14 di mana dia menyuruh orang untuk mendirikan tiang gantungan. Tujuannya adalah untuk menggantung Mordekhai yang tidak menghormati dia. Tetapi apa yang terjadi, justru jauh dari apa yang diperkirakan Haman sebelumnya. Tiang gantungan itu didirikan bukan untuk Mordekhai, malah bagi dirinya sendiri. Akhirnya, Haman mati digantung oleh tiang gantungan yang dibuatnya sendiri.
Seringkali orang beranggapan keliru. Dia melakukan perbuatan baik di masa hidupnya tidak hanya dimaksudkan untuk memperoleh balasan berbuat baik dari orang lain. Seorang Kristen melakukan perbuatan baik itu merupakan ungkapan terima kasihnya karena dia sudah mendapatkan anugerah keselamatan yang sudah diberikan Tuhan Yesus. Di mana segala dosa dan pelanggaran hidupnya dihapuskan oleh kematian Tuhan Yesus di kayu salib.
Hukum tabur tuai ini akan berakhir pada saat seseorang tersebut meninggal dunia. Segala perbuatannya, entah baik atau jahat, berhenti di sini. Sebab orang Kristen tidak mengenal adanya reinkarnasi. Yang ada adalah kebangkitan kekal.


Apa persamaan dan perbedaannya?
Persamaan Hukum Karma dan Hukum Tabur Tuai
- Ada karena dosa
- Sama-sama hukum sebab akibat
- Menabur apa yang dituai seseorang

Perbedaan Hukum Karma dan Hukum Tabur Tuai
HK: Dasarnya dari ajaran agama Hindu
HT: Dasarnya dari Alkitab

HK: Melakukan selama hidup seseorang, tapi menuainya di kehidupan mendatang
HT: Melakukan sema dia hidup dan menuai pada masa hidupnya pula

HK: Karma menentukan wujud di kehidupan mendatang
HT: Perbuatan tidak menentukan di kehidupan mendatang

HK: Keselamatan ditentukan oleh karma seseorang
HT: Keselamatan ditentukan oleh anugerah Tuhan

Sikap sebagai orang Kristen bagaimana?
Setelah mengetahui perbedaan di antara kedua hukum di atas, kita sebagai orang Kristen harus bertindak kritis. Tidak mudah terpengaruh atau ikut-ikutan dengan orang lain. Kita harus menolak pengajaran tentang hukum karma, sebab itu di luar iman Kristen. Yang harus diyakini adalah bahwa ada hukum tabur tuai. Di mana kita seharusnya melakukan hal-hal yang baik semasa hidup agar meninggalkan kesan baik sewaktu meninggal dunia. Seperti kata pepatah "Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan kesan." Pertanyaannya, apakah kita sudah berbuat hal yang terbaik untuk meninggalkan kenangan yang baik terhadap apa yang sudah kita perbuat semasa hidup.
Prinsipnya adalah menaburlah terus apa yang baik, jangan pikirkan kapan kita akan menuainya. Mungkin di masa kita hidup, kita tidak bisa menikmati hasilnya. Bisa jadi anak cucu kita yang akan menikmati taburan kita kelak. Ibarat seseorang yang menanam biji durian, dia tidak langsung menerima hasil buah durian itu. Harus menunggu 10 sampai 13 tahun lagi. Dan bila kita tidak sampai menikmati hasilnya, ada anak-anak kita yang pasti akan menikmatinya. Selamat berbuat hal yang baik. Tuhan Yesus memberkati.

Daftar Pustaka
Tedjo, Tony, Mengenal Agama Hindu, Buddha, Khong Hu Cu (Bandung: Agape, 2008)
www.shantignya.tripod.com


Biodata singkat
Nama : Pdp. Tony Tedjo, M.Th
Isteri : Anggraeni
Anak : Gabriella Angel (4,5 tahun) dan Michael Christian (16 bulan)
Alamat : Jl. Karang Tinggal Dalam no 12 RT 1/RW 11 Bandung
Telpon : 081394401799; 08888255416; 08818223608
Email : tony_kharis@yahoo.com; anggi_1234@plasa.com; penerbitagape@gmail.com
Website:
- www.agapemedia.blogspot.com;
- www.komunitaspenulisrohani.blogspot.com;
- www.schoolofwriting.blogspot.com
Pekerjaan:
- Pelayan di GBI BKR dan Hypersquare Bandung
- Puket III dan dosen di STT KHARISMA Bandung
- Dosen di STT Bandung Literature and Bible Studies
- Redaksi Tabloid Keluarga Surabaya
- Ketua School Of Writing (SOW)
- Ketua Komunitas Penulis Rohani (KPR)
- Direktur Penerbit Agape
- Penulis diberbagai media
- Instruktur penerbitan dan penulisan


"Agar dapat bertahan di tengah krisis, milikilah KETEKUNAN, OPTIMIS, dan PERCAYA DIRI yang didasarkan pada TAKUT AKAN TUHAN" (Tony Tedjo)