Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

CARA GAMPANG UNTUK MENULIS


Salah satu alasan mengapa banyak orang tidak suka menulis, dikarenakan pendapat yang salah. Pendapat tersebut berkata bahwa pekerjaan menulis hanya dapat dikerjakan oleh segelintir orang yang berbakat saja. Mereka yang tidak berbakat menulis, tidak bisa menjadi penulis. Benarkah pendapat tersebut?
Tentu saja pendapat ini salah. Semua orang diberi kesempatan yang sama untuk bisa menjadi penulis. Semua orang bisa menjadi penulis, meski awalnya tidak berbakat menulis. Sebenarnya, dalam diri setiap orang memiliki suatu kemampuan menulis yang terpendam. Ada yang kemampuan menulis itu sudah digali sejak kanak-kanak, namun ada juga yang baru menemukan kemampuan menulisnya di usia dewasa.
Kemampuan menulis ini sudah terlihat semenjak anak belajar di Sekolah Dasar (SD). Setiap anak yang sudah bisa menulis sebuah kalimat, maka kesempatan untuk menjadi penulis terbuka lebar. Bahkan, sebenarnya menulis sudah menjadi kebiasaan anak sekolah. Melalui pelajaran bahasa Indonesia, khususnya bagian mengarang. Setiap anak harus bisa membuat sebuah karangan bebas. Bila tidak bisa membuatnya, maka nilai ujian akhir bahasa Indonesia si anak menjadi jelek. Kemampuan menulis ini, tanpa disadari terus berkembang dalam diri anak, sejak SD hingga SMA, bahkan sewaktu di perguruan tinggi.
Kemampuan menulis dapat disamakan seperti kemampuan seseorang dalam belajar bahasa Inggris atau bahasa Mandarin. Dengan sedikit kerja keras dan fokus pada bahasa yang akan dipelajari, maka seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris atau bahasa Mandarin, dalam waktu sekitar empat hingga enam bulan akan mampu berbahasa Inggris atau bahasa Mandarin. Seperti halnya kemampuan berbahasa asing yang dapat dipelajari, menulis juga dapat dipelajari.
Dalam buku saya berjudul ”Menulis Seni Mengungkapkan Hati,” saya mendefinisikan menulis itu merupakan sebuah seni dalam mengungkapkan isi hatinya. Di mana setiap orang dapat dengan bebas mengekspresikan hatinya ke dalam bentuk tulisan. Hasil dari tulisan-tulisan tersebut kemudian disempurnakan lagi dengan melakukan penyuntingan, sehingga dapat memenuhi standar sebuah tulisan dari salah satu jenis tulisan, misalnya cerpen atau feature.
Kemampuan menulis seseorang dapat dikembangkan, dengan cara aktif mengikuti berbagai pelatihan maupun seminar tentang penulisan, atau dapat mengikuti sekolah menulis. Di samping itu, jangan sampai lupa bahwa untuk menjadi seorang penulis, seseorang harus mau menulis dan terus berlatih menullis. Tanpa banyak menulis, maka kemampuan menulisnya akan menjadi tumpul.
Cara mudah untuk dapat menulis adalah menemukan ide terlebih dahulu. Misalnya mengenai ”meningkatkan minat belajar.” Setelah ide tersebut diperoleh, maka tinggal mengumpulkan sumber-sumber referensi (dari buku, koran, majalah, dll) mengenai ”meningkatkan minat belajar.” Setelah semua terkumpul, mulailah untuk menulis.
Ada cara mudah untuk menulis, yaitu dengan menggunakan format 5W (What, When, Where, Why, Who) ditambah 1H (How). Untuk membuat tulisan mengenai “meningkatkan minat belajar” maka dapat mengembangkan tulisan kita dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari format di atas. Apa yang dinamakan minat belajar? Kapan kita dapat meningkatkan minat belajar? Di mana kita dapat meningkatkan minat belajar? Bagaimana kita dapat meningkatkan minat belajar? Siapa saja orang yang dapat meningkatkan minat belajar? Bagaimana agar dapat meningkatkan minat belajar? Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka jadilah sebuah tulisan yang menarik dan cukup berbobot.
Semakin banyak berlatih menulis, maka tulisan yang kita buat akan semakin enak dibaca dan isinya lebih berbobot. Jangan pernah berhenti untuk menulis. Disarankan agar setiap tulisan kita dikirimkan ke majalah atau koran. Bisa juga bila tulisan yang kita buat cukup panjang, dapat dikirimkan ke penerbit buku. Sehingga tulisan kita itu dapat menjadi buku.

Nama: Tony Tedjo
Alamat: Jl. Karang Tinggal dalam no 12 RT 1/RW 11 Bandung
Telpon: 081394401799 dan 022-95187968

Kamis, 25 Maret 2010

Mengembangkan Talenta Menulis


Salam dahsyat penulis!

Saya percaya bahwa setiap manusia diberikan oleh Tuhan talenta, ada yang lima (banyak talenta), dua (beberapa talenta saja), dan ada yang satu. Jadi bahwa setiap orang pastilah memiliki talenta. Dengan kata lain bahwa setiap manusia diperlengkapi oleh Allah kemampuan untuk memakai potensi yang ada di dalam dirinya. Talenta dalam diri seseorang ini menjadi potensi yang bisa dikembangkan.

Ada orang yang bertanya kepada saya, "Pak, tapi saya tidak memiliki talenta apa-apa yang bisa dikembangkan?" Sebenarnya anggapan ini keliru, karena Tuhan itu begitu mengasihi kita, sehingga Dia memberikan kepada semua orang talenta atau potensi. Bisa saja orang yang merasa tidak memiliki potensi tersebut belum mengenal benar akan kemampuannya. Ibaratnya seperti harta terpendam. Potensi orang tersebut belum digali dan dimunculkan ke luar. Mungkin perlu bantuan orang lain agar potensi tersebut bisa diketahui orang tersebut. Setelah potensi tersebut diketahui, maka tugas selanjutnya dari orang itu adalah mengembangkan potensi tersebut sehingga bisa berlipat ganda dan berkembang.

Bagaimana cara kita menemukan potensi yang ada pada diri kita? Ada beberapa cara, seperti:

1. Ikutilah seminar atau pelatihan penulisan. Dengan mengikuti ini kegiatan ini maka kemampuan menulis kita yang semula terpendam, bisa dimunculkan dan dikembangkan.

2. Cobalah menulis jenis tulisan apa saja, misalnya cerpen atau novel, menulis biografi, menulis buku cerita anak-anak, menulis resep makanan, menulis kiat-kiat atau tips-tips praktis, dll.

3. Latihlah terus jenis tulisan di atas yang kita kuasai. contoh, bila menyukai cerpen maka buatlah cerpen sebanyak-banyaknya secara konsisten.

4. Pelajari karya tulisan orang lain yang berbobot sebagai pemacu agar kita bisa maju.

5. Mencoba mempubikasikan karya tulisan kita ke berbagai media penerbitan atau kirimkan naskah tulisan kita ke penerbit buku.


Kunci untuk bisa mengembangkan talenta kita adalah rajin menulis, mencoba jenis tulisan baru, perbanyak membaca buku-buku berbobot, berani mempublikasikannya kepada umum. Namun semua hal tersebut tidak bisa berjalan apabila tidak ada kesadaran untuk menulis. Kesadaran akan pentingnya menulis inilah yang akan memotivasi seseorang untuk menulis. Selamat berkarya. (Tony Tedjo)

Selasa, 02 Februari 2010

Menulis itu mudah sekali


Salam dahsyat penulis!

Ada banyak orang beranggapan bahwa menulis itu sangat sulit, bila mereka disuruh memilih mau menulis atau bercerita, banyak yang lebih memilih bercerita. Orang bisa bercerita sampai berjam-jam di telpon tanpa merasa kehabisan bahan pembicaraan. Namun, sewaktu disuruh menulis, tak satu kalimatpun muncul di atas kertas. Alasannya, susah untuk memulainya dari mana dulu.

Saya mau katakan bahwa menulis itu mudah sekali, sebab ketika kita menulis, tuliskan saja apa yang ada dalam hati kita. Ungkapkan semua yang kita ketahui mengenai suatu topik pembahasan. Misalnya mengenai uang. Tuliskan semua yang kita ketahui mengenai uang: kegunaannya, bentuknya, jenisnya, nilainya, bahannya, dan apa akibatnya bila tidak memiliki uang. Ceritakan dalam bentuk tulisan. Bila masih ada hal-hal yang masih belum dipahami, cari sumber referensinya: dari buku, wawancara dengan orang lain, koran, televisi, internet, dll. Saya yakin bila sumber itu sudah dikumpulkan akan dengan mudah menuliskan tulisan mengenai uang. Bisa tiga sampai sepuluh lembar halaman.

Agar kita bisa menjadi penulis profesional, maka ada dua hal yang harus kita perhatikan: Pertama, teruslah berlatih menulis. Tuliskan minimal satu halaman sehari. Lakukanlah ini secara konsisten. Lama-kelamaan akan menimbulkan kepekaan dalam diri kita, sehingga bisa dengan cepat menuliskan suatu topik pembahasan tertentu; Kedua, rajinlah membaca buku yang berkualitas. Dengan semakin banyak membaca buku yang berkualitas, maka pola berpikir kita akan terbentuk dengan baik. Dan ini akan berakibat pada kuliatas tulisan yang kita hasilkan menjadi semakin lebih baik dan lebih berbobot lagi. Dengan semakin banyak membaca, maka wawasan kita menjadi bertambah dan tulisan kita menjadi lebih bervariasi dan berisi.

Seseorang pernah berujak demikian "Rajin-rajinlah menulis. Lama-kelamaan di otak Anda akan terbentuk sebuah 'sistem menulis'". Sistem menulis ini memang tidak tercipta begitu saja secara otomatis, tetapi kita sendiri yang harus mengupayakannya. Dua hal yang bisa kita kerjakan untuk membentuk sistem menulis, yaitu: Jadikanlah kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi atau sambilan semata yang hanya dikerjakan ketika ada sisa waktu; dan Rajin-rajinlah menulis. Tuliskan apa saja yang bisa ditulis hari ini. Misalnya menulis facebook atau mengirimkan email, bisa juga menuliskan sebuah artikel pendek ke dalam blog kita. Diharapkan dengan semakin seringnya menulis, maka keahlian kita dalam menulis semakin baik, dan otak kita akan semakin sering mengeluarkan ide-ide cemerlang dan brilian. (Tony Tedjo: Pendiri Sekolah Menulis Alkitabiah/SOW, Ketua Komunitas Penulis Rohani/KPR, Konsultan penulisan dan penerbitan buku. Bisa dihubungi di 081394401799 atau tonytedjo@gmail.com)

Selasa, 03 November 2009

KAYA DENGAN MENULIS




Sewaktu saya kuliah di sekolah literatur, dosen saya berkata demikian: “Jangan harap bias menjadi kaya bila menjadi seorang penulis.” Ucapan tersebut diucapkan oleh seorang sastrawan national yang sudah menghasilkan puluhan buku dan ribuan artikel sastra maupun rohani. Waktu itu saya hanya percaya saja terhadap perkataannya.
Seorang dosen saya yang lain, waktu dia merantau dari Surabaya ke Jakarta hanya membawa baju sepasang dan sebuah mesin ketik. Namun dia dapat bertahan hidup di kota besar, bahkan bias melanjutkan kuliah jurusan jurnalistik. Semua ia peroleh dari hasil menulis di surat kabar. Setiap kali ada berita hangat, dia menuliskan sebuah artikel dengan mesin tiknya, dan mengirimkannya ke redaksi surat kabar. Alhasil, banyak tulisannya yang dimuat. Honor hasil menulis inilah yang menghidupi dirinya dan memperoleh gelar sarjana.
Seorang dosen teologia yang juga menjadi penulis buku, bisa berganti-ganti mobil karena hasil dari royalty yang dia peroleh dari buku-buku karyanya yang laris terjual di pasaran. Bayangkan, buku yang dia tuliskan setebal 350 halaman lebih, dengan harga perbukunya mencapai Rp250.000. Ke mana saja dia mengajar di sekolah teologi, dia selalu menawarkan kepada mahasiswa yang diajar olehnya untuk membeli karyanya sebagai buku wajib. Bila jumlah mahasiswa yang diajar olehnya ada 2000 orang, maka sudah pasti sekitar 2000 bukunya terjual.
Tiga cerita di atas menggambarkan pandangan seberapa besar keuntungannya bila menjadi penulis. Ada yang beranggapan hanya ala kadarnya saja, tapi ada juga orang yang menganggapnya sebagai suatu penghasilan menguntungkan.
Ketika mengajar di kelas SOW saya menegaskan kepada murid-murid SOW (Sekolah Menulis Alkitabiah) kami bahwa “Menulis Bisa Menjadi Kaya.” Seorang penulis sebenarnya bukanlah seorang pengangguran, karena dia juga bekerja dan mengasilkan uang. Bahkan penghasilannya bisa jauh lebih banyak dibandingkan seorang staf. Penulis bisa menjadi kaya-raya, seperti Rick Warren dengan buku The Purpose Drivern Live atau JK. Rowling dengan buku Harry Potter-nya. Yang terakhir ini, malah kekayaannya melebihi Kahayan Ratu Elisabeth II dari Inggris.
Ada tiga alasan bahwa penulis bias menjadi kaya, yaitu:
Pertama, seorang penulis yang rajin menulis artikel dan mengirimkannya ke berbagai media massa, maka suatu saat nanti tulisan tersebut akan diterbitkan. Setiap tulisan yang diterbitkan akan mendapatkan honor. Bila tulisan yang dikirimkan dan diterbitkan lebih dari 5 media massa tiap minggu, maka dalam sebulan ada 20 tulisan yang dimuat. Bila dikalikan dengan honor pertulisan, minimal 20 x Rp100.000 = Rp2.000.000/bulan.
Kedua, setiap tulisan yang sudah dipublikasikan di media massa kemudian kita kumpulkan dan kelompokkan dalam suatu topik yang sama. Setiap 40-50 artikel ini kemudian kita kirimkan ke redaksi penerbit buku, untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Bila sudah diterbitkan, maka kita akan mendapat royalty. Misalnya: Royalti 10% x Rp30.000 x 3000 = Rp9000.000. Itu dari satu buku yang diterbitkan. Bila ada 5 buku, maka tambahan pemasukan keuangan dalam sebulan dapat bertambah Rp9.000.000.
Ketiga, karena meningkatnya brand image orang terhadap diri kita, mengakibatkan meningkat pula nilai jualnya. Bila kita diundang menjadi pembicara seminar atau acara workshop, maka pemasukan pun bertambah. Seandainya dalam sebulan kita diundang minimal 3 kali sebulan saja, dengan besarnya tiap undangan Rp400.000-1.000.000, maka jika 3 kali = Rp1.200.000-Rp3.000.000.
Dari tiga hal di atas, dapat memprediksi berapa banyak uang yang didapat apabila kita menjadi seorang penulis yang produktif. Bukankah kalau dihitung dari besarnya penghasilan yang didapat perbulan jauh lebih banyak dibandingkan seorang pegawai kantor? (Tony Tedjo penulis 6 buku laris dan Ketua SOW; bisa dihubungi di 081394401799)

Selasa, 21 Juli 2009

MENULIS RENUNGAN HARIAN

Bagi para penulis pemula, model penulisan yang sangat mudah ialah menulis renungan harian. Oleh karenanya, dianjurkan sebagai latihan dalam membuat artikel, pertama kali adalah membuat renungan harian. Sebab tulisan yang dibuat tingkat kesulitannya tidak terlalu sulit, hanya berdasarkan pada perenungan yang didapat dari hasil pembacaan Alkitab pribadi.
Ada banyak sekali penerbit renungan harian yang menerbitkan buku renungan dengan berbagai variasi isi (gambar, humor, kata-kata bijak, dsb), jadwal terbit (bulanan, dwi-bulanan,dsb), maupun bentuk penulisannya, seperti RAJAWALI, NILAI KEHIDUPAN, WANITA, WASIAT, MANA SORGAWI, RENUNGAN HARIAN, CULDESAC, dll. Oleh karenanya, seorang penulis renungan, apabila hendak mengirimkan naskah renungannya kepada sebuah penerbit renungan harian, perlu mengetahui ciri khas dari buku renungan yang dibuat tersebut.
Apabila kita mau mengikuti semua persyaratan dari para penerbit tersebut, bisa dibuat pusing. Tetapi jangan kuatir, sebab kita bisa membuat patokan yang menjadi standar dari sebuah renungan harian. Namun sebelum melangkah ke sana, ada baiknya kita memperhatikan hal berikut ini:

1. APA? (What?)
Menulis renungan merupakan bagian tersendiri, dan termasuk dalam rumpun penulisan popular, karena ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Sehingga setiap orang, dari berbagai lapisan usia (anak-anak hingga lansia) menyukai buku renungan untuk dijadikan sebagai bahan saat teduh pribadi mereka.
Dari arti katanya “renungan” mengandung arti “hasil dari merenung,” sedangkan arti “merenung” sendiri adalah “diam memikirkan sesuatu”. Jadi, dengan demikian, menulis renungan berarti menuliskan hasil dari apa yang sudah direnungkan ke dalam sebuah tulisan yang jelas dan mudah dimengerti oleh pembacanya.
Dalam menulis renungan, penulis berbagi iman dari pengalaman rohaninya bersama dengan Tuhan setelah membaca Alkitab, kepada pembaca. Penulis renungan tidak sedang menggurui atau memaksakan suatu kehendak agar dituruti oleh pembacanya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menguatkan, mengoreksi, menasehati, menghibur, maupun memberikan pengetahuan baru dari pembacaan firman Tuhan yang sudah diperoleh penulis kepada pembaca. Fokus utamanya adalah membawa pembaca kepada Kristus (Kristosentris), sebagai Pribadi yang menyelamatkan dan memberikan pertolongan. Selain itu, pembaca juga diajak untuk memperaktekkan firman Tuhan yang tercatat dalam Alkitab. Sebab hanya Alkitablah yang dijadikan sebagai sumber utama dalam penulisan renungan, sumber lain hanyalah sebagai penunjang saja.

2. SIAPA? (Who?)
Pada bagian “who atau siapa” ini ada dua hal yang harus diperhatikan: Pertama, diri si penulis itu sendiri. Kedua, pembacanya. Sebagai penulisan di bidang rohani, sudah tentu penulisannya pun haruslah seorang Kristen yang memiliki rohani baik, dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut:
1. Telah lahir baru. Menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, serta yakin terhadap keselamatan dirinya.
2. Memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan melalui jam-jam doa yang teratur, pembacaan Alkitab yang teratur, dan beribadah dengan teratur pula.
3. Punya pemahaman yang benar dan baik mengenai isi firman Allah. Hal ini penting untuk diperhatikan, supaya menghindari bahaya penyesatan akibat salah menafsirkan ayat firman Tuhan.
4. Memiliki hati yang mengasihi jiwa-jiwa yang belum diselamatkan atau rindu untuk memberikan motivasi kepada mereka mengalami kemunduran rohani.
5. Mempunyai bakat, dan ketrampilan untuk menulis.
6. Memahami penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dengan baik dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik pula.
7. Bersikap terbuka terhadap saran dan kritikan membangun yang ditujukan kepadanya.

Jika kriteria di atas diperuntukkan bagi si penulis (writer), maka perlu juga memperhatikan pada diri si pembacanya (reader). Pembaca bisa digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu:
1. Segi usia. Berapa sasaran usia pembaca kita: Tua, muda, remaja, anak-anak, atau keluarga.
2. Segi pendidikan. Bagaimana tingkat pendidikannya, apakah pendidikannya SD, SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi. Apakah juga untuk sekuler atau kalangan mahasiswa teologi.
3. Segi denominasi gereja. Ditujukan bagi kalangan denominasi gereja mana, apakah Kharismatik, Pentakosta, Injili, Reform, Bala Keselamatan, Baptis, atau interdenominasi (untuk semua kalangan). Apabila ditujukan bagi kalangan interdenominasi, maka hal yang harus diperhatikan adalah tidak boleh menyinggung doktrin, seperti Baptisan, Keselamatan bisa hilang atau tidak, dsb.
4. Segi gaya bahasa. Meski gaya bahasa yang dipergunakan adalah gaya bahasa popular, namun kita perlu juga memperhatikan gaya bahasa mana yang cocok dipergunakan pada pembaca kita. Tentunya berkaitan dengan tingkat usia atau pendidikan. Misalnya, bagi kalangan pemuda atau pelajar, tentunya gaya bahasa yang dipakai bisa dengan mempergunakan bahasa yang gaul. Lain halnya bila ditujukan bagi orangtua atau lansia, tentunya gaya bahasa yang dipakai haruslah yang sederhana dan mudah dimengerti, tanpa memakai bahasa asing yang bisa membuat pusing mereka.

3. BAGAIMANA? (Why?)
Meski terlihat mudah, namun kita tidak dengan seenaknya membuat tulisan renungan. Kita tetap harus memperhatikan beberapa hal berikut, yaitu:
1. Tulisan renungan biasanya terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bagian berkisar antara 3 hingga 4 praragraf. Bagian-bagian tersebut yaitu: Pembukaan, Isi dan Penutup. Bagian pembukaan dibuat sebagai pengantara sebelum pembaca dihantarkan kepada pembahasan yang akan dibahas. Baisanya berupa ilustrasi, kesaksian, atau latar belakang dari perikop ayat yang diangkat. Panjangnya berkisar sepertiga bagian dari keseluruhan tulisan renungan. Pada bagian isi inilah semua pemaparan penulis dipaparkan berkaitan dengan ayat yang diangkat, judul, dan dengan bagian pembuka tadi. Isinya biasanya lebih panjang sedikit dibandingkan bagian pembukaan. Sedangkan bagian akhir tulisan, merupakan kalimat penutup yang berisi ajakan, himbauan, dukungan kepada pembaca untuk mentaati atau menjauhi hal yang dimaksud dalam pembahasan tulisan renungan tersebut. Dengan kata lain bagian akhir ini merupakan penutup dari renungan kita.

2. Faktor koherensi dan konsistensi. Kedua faktor ini harus diperhatikan dengan baik, sebab bila tidak akan membuat tulisan kita ngawur. Koherensi memiliki arti “utuh menyeluruh, tidak terpecah.” Sedangkan konsistensi berarti “kesinambungan.” Dengan demikian, tulisan renungan kita haruslah utuh menyeluruh dan berkesinambungan, tidak terputus ceritanya. Dari awal sampai akhir nyambung.

3. Faktor pendukung. Ada beberapa faktor pendukung yang terdapat dalam tulisan renungan, yakni: a) Judul. Buatlah judul semenarik mungkin, sehingga orang menjadi tertarik untuk membacanya. Panjang judul berkisar 2-4 kata, lebih dari itu kurang baik. b) Ayat pembacaan. Diambil satu ayat dari satu perikop yang akan dibahas. c) Ayat pendukung. Bisa diambil dari perikop yang sedang dibahas atau dari Kitab lain. Asalkan ayat yang diambil tepat dan sesuai dengan pembahasan tulisan renungan kita. d) Pelengkap lain, seperti: pokok doa, pembacaan Alkitab setahun, kata-kata mutiara, refleksi kehidupan, humor, dll.

4. Faktor tepat sasaran. Tulisan yang dibuat haruslah memiliki sasaran yang jelas. Misalnya: Agar pembaca bertobat dari dosa-dosanya, menerima anugerah keselamatan, atau menguatkan iman.

4. JENISNYA
Dalam tulisan renungan, berdasarkan sifatnya bisa dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Informasi. Tulisan yang disampaikan penuh dengan informasi seputar perkembangan pekerjaan Tuhan di dunia maupun berupa pemaparan siingkat dari topik (perikop) yang sedang dibahas.
b. Teguran. Isinya menyangkut teguran terhadap pelanggaran (dosa) yang mungkin telah diperbuat oleh pembaca. Misalnya: Perpuluhan, perzinahan, dan sebagainya.
c. Penghiburan. Untuk menghibur hati pembaca yang sedang risau dan gundah gulana. Sehingga si pembaca merasa terhibur dan fresh kembali.
d. Motivasi. Membagikan semangat baru kepada pemabca, agar bangkit dari kegagalan dan tidak mengulangi tindakan salah yang pernah dilakukan.


Contoh sebuah tulisan renungan diambil dari e-Renungan Harian, tgl. 15 Juli 2009
Bacaan : Rut 1
Setahun : Yesaya 25-27
Nats : “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan
tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ
jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku
bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”
(Rut 1:16).

Judul: SETIA DALAM KEKOSONGAN

"Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang." Inilah
sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang
untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit.
Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi, boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang lumayan berada-Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan Naomi, tetapi ada pernyataan bahwa Naomi "pergi dengan tangan penuh" (1:21). Akan tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi jatuh miskin "tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku". Di sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya.”
Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu,jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia -RY

JANGAN BIARKAN KESETIAAN KITA DITENTUKAN OLEH HARTA TETAPI TENTUKANLAH KESETIAAN KITA OLEH KASIH

(sumber: bahan SOW angkatan ke-3, oleh Tony Tedjo. Bisa dihubungi di 081394401799 atau tony_kharis@yahoo.co.id)

Senin, 13 Juli 2009

Menjadi Kaya dari Menulis

Judul di atas mungkin akan dianggap oleh sebagian orang terlalu berlebihan. Lha hidup layak dari menulis saja cukup sulit. Mungkin Anda mengenal penulis yang hidupnya serba susah karena mengandalkan honor dari menulis saja. Banyak orang tua yang keningnya langsung berkerut waktu mengetahui anaknya tercinta bercita-cita menjadi penulis. Madesu atau masa depan suram sudah terbayang di benak orang tua tersebut. Bagi sebagian orang profesi penulis masih dipandang sebelah mata.
Judul di atas tidak mengada-ada. Banyak penulis yang bisa menjadi orang kaya. Berlimpah ruah materi. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika Anda ingin kaya dari menulis atau sedikitnya hidup berkecukupan dari menulis.
1. Buku yang Anda tulis laris manis.
Mungkin ini adalah syarat yang paling susah dipenuhi. Anda mungkin berpikir bahwa buku yang laris adalah buku yang memiliki kualitas sangat baik, masterpiece. Salah. Belum tentu. Tidak semua buku yang laris adalah masterpiece. Buku yang berkualitaspun belum tentu terjual banyak. Memang, walaupun begitu, buku dengan kualitas baik memiliki kemungkinan lebih besar menjadi laris. Jadi, ada banyak kemungkinan buku Anda akan menjadi buku laris.
2. Anda cukup produktif menulis buku.
Jika Anda memiliki buku Best Seller Anda pantas bersyukur. Tetapi seberapa banyak sih sebuah buku yang dinyatakan best seller laku terjual di Indonesia.
Apalagi jika kita melihat kondisi di Indonesia yang sangat rendah minat bacanya. Suatu buku yang disebut best seller oplahnya hanya ada di kisaran angka ribuan. Paling banter puluhan ribu. Ini lebih sedikit lagi kalau buku tersebut adalah buku non fiksi. Cara mensiasati hal ini adalah dengan produktif menulis buku.
3. Anda memiliki penghasilan yang merupakan side effect dari tulisan Anda.
Tentu Anda pernah melihat banyak profesional yang menulis buku. Pernah saya menanyakan apa sih motivasinya menulis buku. Ia menjawab, bagi-bagi ilmu, sekalian mempromosikan keahliannya. Royalti sama sekali tidak ada di dalam jawabannya. Nilainya tidak sebanding dengan waktu, tenaga yang harus dicurahkan untuk menulis buku. Dengan menulis buku ia akan mendapatkan kredibilitas yang makin mendorong bisnisnya.
4. Anda harus menjual diri Anda sendiri.
Bukan jamannya lagi seorang penulis adalah seorang yang menyendiri, tenggelam dalam kesibukkannya menulis dan melupakan hubungan dengan dunia luar.
Seorang penulis pernah berkata bahwa karena ia bukan seorang yang bisa berbicara dengan baik makanya ia menjadi penulis. The worst thing, ia hanya menulis dan menulis, dan tidak pernah muncul di dunia. Jika Anda memiliki kesempatan, berinteraksilah dengan lngkungan, berbicaralah dengan siapapun. Semakin banyak Anda dikenal, semakin banyak kesempatan orang akan membeli buku Anda. Jika Anda hanya menulis dan menulis, hanya faktor luck yang akan membantu buku Anda laku di pasaran. Orang yang datang ke toko buku, dan melihat buku baru Anda dipajang di etalase toko buku, akan berkata "Who the hell is the writer". Semakin sering Anda menulis juga akan mendongkrak nama Anda, tetapi prosesnya akan lama. Berbeda jika nama Anda sudah dikenal sebelumnya.
Jika Anda enggan atau tidak nyaman bertemu dengan orang dan berbicara. Gunakan kemampuan teknologi seperti chat, email, blog, untuk berkomunikasi dengan orang lain. (Ditulis oleh Didik Wijaya)

Selasa, 30 Juni 2009

SEPULUH LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEBIASAAN MENULIS

Ada dikatakan demikian: "Jika Anda dapat menciptakan kebiasaan menulis, Anda akan memiliki fondasi yang kuat sebagai seorang penulis."

Jika Anda kesulitan mengusahakan waktu yang cukup untuk menulis, atau terus menunda-nundanya, atau nampaknya tidak pernah mulai menulis meskipun Anda sudah merencanakannya, Anda harus berusaha menciptakan kebiasaan menulis. Pikirkanlah hal ini sejenak -- jika Anda dapat menulis dengan konsisten selama satu jam (atau dua jam) dalam sehari:
- Anda akan banyak menulis dalam jangka waktu sebulan, atau setahun. Jumlah tulisan Anda akan sangat banyak.
- Anda akan memenuhi tenggat waktu menulis, karena Anda tidak menunda-nunda untuk menulis.
- Kualitas tulisan Anda akan meningkat, karena Anda banyak berlatih menulis.
- Anda akan merasa bahwa tulisan Anda bagus, dan karenanya Anda akan terus termotivasi untuk menulis.
- Anda akan mengatasi masalah perang dan kelaparan dengan kejeniusan tulisan Anda.

Poin yang terakhir mungkin agak berlebihan, namun secara pribadi, saya mengalami empat poin pertama. Menulis sudah menjadi kebiasaan dan hasrat saya, dan saya sudah melakukannya cukup lama. Meski tidak semua kata yang saya tulis itu brilian dan memesona, saya dapat dengan bangga mengatakan bahwa saya sudah banyak menulis untuk banyak publikasi. Pada tahun terakhir saja, sebagai "blogger", penulis blog lepas, dan komentator untuk banyak blog, saya barangkali sudah menulis lebih dari 1.000 postingan tulisan. Itu belum termasuk tulisan yang saya tulis di pekerjaan dan di luar dunia blog.
Kebiasaan saya cukup sederhana: saya memiliki dua atau tiga hal yang benar-benar ingin saya tulis setiap hari, dan saya menulisnya sedini mungkin setiap hari. Biasanya 2 hingga 4 jam setiap hari (kadang lebih). Menulis adalah prioritas saya, dan dalam banyak hal, menulis banyak memberi saya manfaat.
Para penulis adalah para penunda-nunda yang tidak populer. Tapi kita tidak perlu menjadi seperti itu jika kita menciptakan kebiasaan menulis. Berikut adalah langkah-langkah yang cocok untuk saya; langkah-langkah yang juga saya gunakan untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan lain:

1. Tulis kebiasaan menulis Anda.

Jika Anda tidak berkomitmen untuk menuliskan kebiasaan menulis, Anda tidak benar-benar berkomitmen untuk membentuk kebiasaan tersebut. Jika Anda ingin membentuk suatu kebiasaan menulis, Anda harus benar-benar berkomitmen untuk melakukannya. Bukan kalimat "akan saya usahakan", namun "saya benar-benar akan menulis". Dan Anda harus menuliskan komitmen tersebut lalu memasangnya di tempat-tempat yang dapat Anda lihat dengan mudah. Secara spesifik, tulis kebiasaan seperti apa yang akan Anda lakukan (dalam hal ini menulis). Kapan, di mana, dan untuk berapa lama Anda akan melakukannya? Tuliskanlah semua itu.

2. Menulislah setiap hari pada waktu yang sama, dengan pemicu.

Akan baik jika Anda memiliki waktu tertentu setiap hari untuk mulai menulis. Saya lebih suka di pagi hari, namun bisa juga saat makan siang, atau sesaat sebelum tidur. Pastikan bahwa waktu itu adalah waktu yang tidak akan dijejali oleh aktivitas lain -- jika Anda sering mendapat panggilan rapat setiap sore, misalnya, jangan menetapkan waktu itu sebagai waktu menulis Anda (kecuali Anda memiliki otoritas untuk tidak mengikuti rapat itu).
Yang sama pentingnya dengan memiliki waktu khusus untuk menulis adalah memiliki pemicu. Apakah pemicu itu? Ini adalah suatu peristiwa yang akan mendorong Anda untuk melakukan kebiasaan itu. Misalnya, ketika dulu saya merokok, saya memiliki beberapa pemicu: saya akan merokok saat bangun tidur, stres, setelah rapat, dan sebagainya. Ketika saya ingin mengubah kebiasaan tersebut, saya harus mengubah beberapa pemicu itu, sehingga saya memiliki kebiasaan yang baru untuk menggantikan kebiasaan merokok. Ketika bangun tidur, misalnya, saya akan berolahraga.
Untuk menciptakan kebiasaan baru, kita harus berusaha keras menghubungkan kebiasaan tersebut dengan pemicu. Contohnya, katakan saja Anda ingin menulis pada pagi hari -- Anda akan bangun dari tempat tidur, mandi, membuat kopi, dan kemudian mulai menulis. Jadi, membuat kopi adalah pemicu untuk Anda menulis, dan mandi adalah pemicu untuk Anda membuat kopi, dan bangun dari tempat tidur adalah pemicu untuk Anda mandi. Dan karena Anda pasti akan bangun dari tempat tidur setiap hari, jadi Anda tidak akan memiliki masalah menerapkan hal ini. Pilih sebuah pemicu yang Anda tahu akan Anda lakukan setiap hari, dan kemudian menulislah.

3. Berkomitmenlah kepada orang lain.

Seperti yang telah dituliskan di atas, adalah penting untuk memiliki komitmen yang kuat guna membentuk kebiasaan menulis. Untuk itu, akan membantu jika komitmen itu sifatnya tidak pribadi. Umumkanlah komitmen Anda kepada banyak orang. Beritahu keluarga, teman-teman, rekan kerja Anda, tulis dalam situs blog Anda, kirimkan ke sebuah forum diskusi online, dan sebagainya. Katakan dengan jelas apa yang akan Anda lakukan, dan berjanjilah untuk melaporkan kepada mereka hal-hal yang telah Anda lakukan (lihat butir nomor 6 di bawah). Hal ini akan memotivasi Anda untuk tetap melakukan kebiasaan menulis.

4. Fokuslah selama 1 bulan.

Salah satu kunci untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah fokus. Jika Anda benar-benar fokus untuk membentuk kebiasaan menulis, Anda akan sukses (terutama jika Anda mengombinasikannya dengan beberapa tips lain dalam artikel ini). Jika Anda mencoba untuk menciptakan banyak kebiasaan baru dalam satu waktu sekaligus, fokus Anda akan tersebar. Jangan terjerat pada jebakan yang lazim ada namun menggoda ini. Kerahkan seluruh fokus dan energi Anda untuk membentuk kebiasaan baru dalam menulis.

5. Temukan motivasi Anda.

Apa alasan Anda melakukan kebiasan menulis? Apa yang memotivasi Anda untuk duduk dan menulis? Apa yang dapat membuat Anda tetap termotivasi ketika Anda sedang tidak ingin menulis? Mengetahui apa yang menjadi motivasi Anda itu penting -- dan sangat baik jika Anda menuliskannya.

6. Catat dan bertanggungjawablah.

Sangat penting mencatat kebiasaan baru Anda. Hal termudah yang dapat Anda lakukan adalah dengan memberikan tanda "X" di kalender Anda setiap kali Anda menulis. Atau Anda bisa juga menyiapkan sebuah lembar kerja untuk mencatat waktu dan tanggal, dengan catatan kecil ketika Anda menulis. Ini dapat menjadi alat untuk membantu Anda melacak apakah tujuan Anda sudah tercapai atau belum. Atau Anda bisa juga membuat catatan dalam blog pribadi; dengan menuliskan tulisan singkat dalam blog Anda setiap kali Anda selesai menulis. Forum diskusi online merupakan cara yang baik pula untuk mencatat apa yang sudah Anda lakukan. Cara apapun yang Anda pakai, lakukanlah itu dengan konsisten dan segera lakukan pencatatan setiap kali Anda selesai menulis. Bagikanlah catatan Anda tersebut kepada orang lain sebagai bentuk pertanggungjawaban Anda kepada orang lain.

7. Tentukan penghargaan diri.

Penghargaan adalah motivator yang luar biasa. Sering-seringlah memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika Anda baru mulai berusaha membentuk kebiasaan menulis: berikan satu hadiah kecil untuk diri sendiri pada hari pertama Anda menulis, kemudian pada hari yang kedua dan ketiga. Setelah itu, berikan hadiah kepada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 minggu. Lalu kurangi lagi, Anda akan memberikan hadiah pada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 bulan. Buat daftar penghargaan sebelum Anda mulai menulis, jadi Anda dapat melihat hadiah apa saja yang dapat Anda terima jika Anda mulai menulis.

8. Disiplin.

Semakin konsisten Anda menulis, semakin kuat kebiasaan itu jadinya. Pastikan kebiasaan Anda terhubung kuat dengan pemicu Anda, sehingga setiap kali pemicunya terjadi, Anda akan melakukan kebiasaan Anda. Itulah yang membentuk suatu kebiasaan. Jika pemicunya terjadi, dan kadang Anda tidak melakukan kebiasaan Anda, maka Anda tidak benar-benar membentuk sebuah kebiasaan. Jadi, daripada Anda menyalahkan diri kelak, lebih baik Anda benar-benar disiplin. Karena sekali Anda tidak melakukan kebiasaan itu, kemungkinan Anda akan melakukannya lagi lain waktu. Jika Anda merasa sedang tidak ingin menulis hari ini, katakan pada diri Anda dengan tegas: "Disiplin!"
Apa yang akan terjadi jika karena beberapa alasan, Anda tidak melakukan kebiasaan Anda? Jangan lantas menyalahkan diri Anda sendiri. Analisa dan cari tahu mengapa hal itu sampai terjadi dan cari solusinya agar tidak terjadi lagi. Kemudian maju terus. Membentuk suatu kebiaaan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun jika Anda disiplin, Anda akan berhasil.

9. Mencari inspirasi.

Motivator terbaik adalah inspirasi. Ketika saya membentuk kebiasaan baru, saya suka membaca pengalaman-pengalaman sukses orang lain. Saya akan membaca buku, majalah, situs, dan blog dengan topik tersebut. Lakukanlah hal yang sama saat menulis --carilah inspirasi, tetapi jangan membiarkan kegiatan membaca tersebut menghambat Anda untuk menulis.

10. Jadikan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Yang terpenting, jika kebiasaan itu tidak menyenangkan, Anda akan sering kehilangan motivasi. Mencoba disiplin memang penting, tapi pada akhirnya, motivasilah yang merupakan faktor pentingnya. Anda tidak dapat memaksa motivasi. Jadi, carilah cara untuk membuat kebiasaan menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bisa dengan memutar musik atau menenggak secangkir kopi atau teh saat Anda menulis. Menulislah dengan ditemani sesuatu yang Anda sukai. (t/Davida diambil dari e-Penulis edisi 56 tgl.17-6-2009)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Nama situs: Write to Done
Judul asli artikel: 10 Steps to Create the Habit of Writing
Penulis: Tidak dicantumkan
Alamat URL: http://writetodone.com/2008/01/09/10-steps-to-create-the-habit-of-writing/

Selasa, 21 April 2009

7 MANFAAT BLOG BAGI PENULIS


Belakangan ini, saya lumayan gencar mendorong sahabat-sahabat penulis maupun siapa saja yang sedang belajar mengembangkan kemampuan menulis untuk membuat weblog atau blog. Saking bersemangatnya, sampai ada rekan yang berseloroh, “Wah, bikin blog-nya aja belum genap sebulan. Tapi, cara ngomporinnya udah semangat 45!” Diledek begini saya langsung ngeles (berkilah), “Lho, nge-blog-nya di Ezonwriting.wordpress.com boleh baru. Tapi, nulis di media media online kan udah dari dulu?” Dan, rekan ini cuma bilang, “Ya, whatever-lah...!”

Kali ini, saya ingin menekankan kembali betapa media blog ini punya banyak manfaat bagi penulis, atau siapa saja yang sedang belajar menulis. Bagi saya, blog sebenarnya punya karakteristik yang hampir sama dengan website biasa seperti Pembelajar.com atau beragam website lainnya. Bedanya hanya sedikit, yaitu pada kemudahan pembuatannya, pengelolaannya, template yang tersedia, serta sifat gratisan namun dengan menu-menu pendukung yang berlimpah.

Saya tidak akan bahas hal teknis soal beda website biasa dengan blog di sini karena memang bukan kompetensi saya. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa siapa pun sekarang bisa memiliki blog dengan tampilan profesional (layaknya website biasa yang cantik) secara gratis dan mudah. Nah, blog ini ibarat rumah kita di dunia maya yang bisa didandani dan dimodifikasi sedemikian rupa, serta dimanfaatkan sesuai kebutuhan kita. Dalam konteks tulisan ini, kita akan ulas manfaat blog dari segi kepenulisan.

Baik, dari pengamatan saya, ada sejumlah manfaat blog bagi penulis atau siapa pun yang sedang mengembangkan kemampuan menulisnya. Berikut di antaranya.

Pertama, blog menjadi sarana publikasi tulisan yang termudah sekaligus strategis. Kita sudah pada tahu, salah satu masalah utama yang dialami kebanyakan penulis—terlebih lagi penulis pemula—adalah soal wadah publikasi. Media massa umum seperti koran, tabloid, majalah, jurnal, sering kali terbatas ruangnya dan mematok standar kualitas tulisan tertentu. Setiap hari, ribuan tulisan masuk ke meja redaksi berbagai media massa, tapi hanya sedikit saja yang bisa dimuat.

Nah, selain sejumlah website yang menerima kontribusi tulisan dari luar, blog bisa jadi solusi bagi tulisan-tulisan yang tidak tertampung itu. Manakala tulisan ditampilkan di blog, aslinya tulisan itu sudah punya “nyawa” dan mendatangkan pengaruh. Hanya tulisan yang dipublikasikan saja yang punya nyawa dan pengaruh kepada pembacanya. Blog bisa menjadi alat untuk menghidupkan tulisan kita.

Lalu, apa strategisnya memublikasikan tulisan di blog? Nilai strategisnya sedikit berbeda dengan media offline macam surat kabar. Tulisan yang dimuat di surat kabar belum tentu bisa diakses melalui internet, kalau surat kabar tersebut tidak online. Tulisan di blog jelas online, dan pada tingkatan tertentu, tulisan tersebut mudah diakses melalui search engine. Jejak di search engine inilah yang punya nilai startegis. Kedua, tulisan di blog mudah sekali dikomentari dan feedback ini banyak manfaatnya. Asal menu komentar tidak ditutup, maka siapa pun yang membaca tulisan kita bisa berkomentar apa saja di sana. Memang, untuk blog yang aktif serta sering dikunjungi, komentar mudah sekali didapat dan jumlahnya bisa banyak sekali. Sementara, blog yang kurang aktif, jarang ditaut (di-link), dan jarang dikunjungi biasanya juga tidak banyak komentarnya.

Banyak orang belum sepenuhnya aware dengan peran komentar atau feedback tulisan ini. Bagi penulis, komentar atas tulisan sungguh merupakan alat uji bagi tulisan itu sendiri. Positif atau negatif komentarnya, itu semua bisa menjadi bahan perbaikan tulisan atau bagian dari proses pembelajaran penulisnya. Bahkan, banyak sekali ide-ide baru yang bisa dielaborasi dan dieksplorasi dari lalu lintas komentar tersebut.

Ketiga, blog bisa menjadi alat penumbuh kebiasaan dan keteraturan menulis. Bagaimanapun, setelah punya blog biasanya kita akan terdorong untuk terus mengisinya dengan berbagai bentuk tulisan. Terlebih bila tulisan-tulisan kita mendapatkan sambutan atau aneka komentar dari para pengunjung. Ini akan memotivasi kita untuk rajin mem-posting tulisan. Bagi mereka yang sedang belajar menulis, komentar atau tanggapan blogger (penulis blog) lain ini akan sangat besar artinya.

Khusus untuk para blogger yang sudah memiliki jaringan luas serta setiap tulisannnya dinantikan, pastilah ada semacam dorongan untuk terus mengisi blog-nya. Tulisan-tulisan terbaru para blogger yang sudah cukup bergaung namanya atau terkenal biasanya juga selalu dinantikan. Bila mereka mulai mengendor atau jarang meng-update blog, pasti ada keluhan dari para pengunjung setia. Jika ini keterusan, pengunjung bisa menurun dan akan kurang menguntungkan si blogger.

Keempat, menulis di blog secara rutin juga berdampak pada kemampuan kita dalam menuangkan gagasan. Makin sering menulis di blog, rasanya akan semakin mudah pula mengeluarkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Ini sama persis dengan kegiatan menulis diari sehari-hari. Semakin sering kita mengisi diari, semakin mudah dan lancar pula kita menulis.

Kelima, blog bisa menjadi ajang ekspresi yang bebas hambatan sama sekali. Ini memungkinkan tulisan-tulisan yang dalam kacamata umum mungkin dianggap kurang pantas, terlalu absurd, atau melanggar aturan-aturan tertentu, di blog malah mendapatkan saluran seluas-luasnya. Blog bisa menjadi saluran gagasan-gagasan alternatif, bahkan yang paling ekstrim sekalipun. Ini yang tidak mungkin diwadahi oleh media konvensional.

Sifat blog yang bisa diisi oleh siapa pun, dengan jenis tulisan apa pun, serta dengan segala tingkatan kemampuan menulis, membuatnya menjadi ajang ekspresi intelektual yang sangat konstruktif. Sumirnya batas-batas tersebut (karena penulis sendirilah yang menetapkan batasannya) bisa merangsang blogger menuliskan apa saja serta menambahkan keberanian dalam berekspresi. Nah, sisi keberanian berekspresi inilah yang bisa mendongkrak kemampuan menulis seseorang.

Keenam, blog adalah tempat kita untuk menabung tulisan. Satu demi satu kita isi blog dengan beragam tulisan, maka lama kelamaan blog kita akan penuh juga. Bagus sekali bila mayoritas tulisan yang kita tampilkan di blog adalah karya sendiri. Terlebih bila blog memang kita jadikan sebagai sarana untuk berlatih menulis dan menampung tulisan-tulisan karya sendiri.

Pada saatnya nanti, tulisan-tulisan di blog bisa kita oleh menjadi karya lainnya, buku misalnya. Kalau tulisan sudah terkumpul dan temanya memiliki benang merah tertentu, serta dari sisi kualitas memang memenuhi syarat untuk dibukukan, mengapa tidak dibukukan? Potensi inilah yang tampaknya belum banyak dilirik oleh para blogger. Saya termasuk yang sedang mendorong-dorong para blogger supaya ngeh dengan potensi blog untuk dibukukan.

Ketujuh, blog bisa berfungsi sebagai media personal branding. Blog bisa menjadi ajang unjuk ide, pikiran, karya, tulisan, serta pencitraan. Lima tahun yang lalu mungkin Anda tidak mengenal siapa itu Enda Nasution, Priyadi, Fatih Syuhud, Jennie S. Bev, dan para blogger kenamaan saat ini. Kalaupun sudah mengenalnya, mungkin hanya sayup-sayup belaka. Tapi, berkat kiprah mereka di dunia maya melalui blog, mereka kini dikenal menjadi orang-orang beken di dunia blog Tanah Air. Itu artinya, mereka berhasil membangun merek diri melalui blog. Tinggal pemanfaatan ekuitas mereknya saja akan seperti apa nantinya.

Blog bisa membuat seorang penulis yang “bukan siapa-siapa” menjadi penulis yang bisa “dikenal oleh siapa saja”. Interkoneksi antara blog dengan mesin pencari dan kebutuhan akan data oleh pengguna internet, ternyata telah menciptakan situasi kesalingterhubungan alias saling kenal. Terpaut dengan segala aktivitas maya lainnya, maka situasi itulah yang akhirnya bisa memupuk brand seseorang.

Nah, berangkat dari tujuh keuntungan atau manfaat tersebut, saya kembali mengajak Anda para penulis maupun siapa saja yang sedang belajar menulis, ayo buat blog penulisan. Wadah publikasi tulisan sudah bukan barang langka dan sakral lagi. Semua orang bisa nge-blog dan menjadi “sesuatu” yang berarti karena aktivitas tersebut. Ok, sampai ketemu di dunia blog dan temukan semakin banyak manfaat di sana.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP).