Minggu, 03 Mei 2009

ALLAH BAPA


Bapa merupakan sebutan yang biasa dipergunakan oleh seorang anak terhadap ayahnya. Kita, sebagai orang percaya, dapat menyebut Allah kita dengan sebutan Bapa. Sebab kita yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mendapatkan status baru, yaitu sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Dan sebagai anak, kita berhak menyebut Allah dengan sebutan Bapa. “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15).
Panggilan Bapa kepada Allah adalah sesuatu yang unik dan merupakan suatu penghargaan bagi kita. Bagaimana tidak, Allah yang adalah Sang Pencipta dapat dipanggil dengan sebutan Bapa atau Abba. Berarti hubungan antara Allah dengan kita begitu sangat dekat. Seperti seorang anak memanggil papahnya.
Bila kita cermati, panggilan Bapa ini hanya dimiliki di kalangan Kristen saja. Agama dan kepercayaan lain tidak ada yang menyebut Allahnya dengan sebutan Bapa. Yang ada hanyalah jurang pemisah antara Allah dengan umat-Nya. Mereka yang di luar Kristen untuk bertemu dengan Allahnya harus benar-benar membersihkan seluruh badannya dan bahkan tidak boleh menyebutkan nama Allahnya. Berbeda dengan kita, yang bisa dengan setiap saat datang menghampiri-Nya di dalam doa dan memanggil nama-Nya, “Bapa”.
Seorang Bapak yang sekarang menjadi pendeta di salah satu gereja di Bandung, pernah bersaksi kepada saya bahwa dia dulu berasal dari agama lain. Selama dia menjalani agamanya yang dahulu, dia berusaha mencari kebenaran, namun tidak dia dapatkan. Bahkan, hubungan antara Allah dengan umat-Nya sepertinya begitu sangat jauh. Ibarat langit dan bumi. Sehingga sangatlah mustahil untuk dijangkau. Namun suatu kali, ketika dia menghadari acara Natal yang menurut anggapannya adalah Natal umum, namun ternyata Natal anak-anak sekolah Minggu. Sesuatu yang luar biasa terjadi. Dia melihat dan mendengar sendiri, anak-anak sekolah minggu berlari ke sana ke mari dengan bebas dan yang lebih membuatnya terperangah adalah bahwa anak-anak tersebut berdoa dan memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Suatu panggilan yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Di sinilah awal pertobatannya. Bila dahulu dia membaca Alkitab hanya untuk mencari-cari kelemahan dan kesalahan isinya, namun setelah peristiwa itu pikirannya mulai berubah. Alkitab yang dia baca membuatnya semakin percaya kepada Yesus. Lebih-lebih ketika suatu kali Yesus sendiri datang menemuinya. Akhirnya dia menyerahkan hidupnya bagi Tuhan Yesus dan menjadi hamba-Nya.
Sungguh suatu hal yang luar biasa. Kita diberikan suatu kehormatan menyebut Allah dengan sebutan Bapa. Sehingga kita bisa berdoa “Bapa kami yang di sorga”. Bila Allah adalah Bapa kita, maka sudah barang tentu kita sebagai anak-anak-Nya berhak menerima warisan dari-Nya, yaitu sorga.
Lantas bagaimana sikap kita sebagai anak, apakah hanya “berpangku tangan” saja? Tentu saja tidak. Kita harus menjalankan kehendak Bapa, yaitu untuk memberitakan Kabar Baik (berita Injil) bahwa ada keselamatan di dalam Yesus Kristus. Setiap saat dan setiap ada kesempatan ceritakanlah tentang Yesus kepada sebanyak mungkin orang, agar mereka juga diselamatkan. Dan mereka juga mendapatkan status “anak-anak Allah” sehingga dapat menyebut Allah dengan panggilan Bapa.
Hal yang perlu diperhatikan di sini ialah jangan samakan Bapa kita yang di sorga dengan bapa atau papah kita di bumi ini. Sebab bapa kita di bumi adalah manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan. Karena keterbatasan dan kelemahan inilah yang membuat bapa kita tidak sempurna. Hanya Bapa di sorga sajalah yang sempurna.
Seringkali pengalaman hidup seseorang terhadap bapanya di bumi berpengaruh terhadap pandangannya terhadap Bapa di sorga. Bila bapa yang di bumi ini begitu sangat kejam dan sering menyakitinya, maka dia beranggapan kalau Bapa di sorga pun tidak jauh berbeda dengannya. Pandangan seperti ini salah besar dan sangat membahayakan iman. Sebab bila Allah Bapa dipahami sebagai Bapa yang kejam dan sadis, maka seluruh pandangannya terhadap Allah Bapa akan menjadi rusak dan merusak identitas Allah sendiri sebagai Allah Yang Mahakasih. Bila terus dibiarkan apalagi sampai diajarkan kepada jemaat, akan menyesatkan. (Pdp. Tony Tedjo, M.Th)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar