Kamis, 28 Juli 2011

Apa itu kepemimpinan hamba?

Kepemimpinan pelayan yang terbaik didefinisikan oleh Yesus sendiri: "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara Anda harus hamba-Mu, dan siapa pun yang ingin menjadi yang pertama harus menjadi budak-hanya Anda sebagai Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan hidupnya sebagai tebusan bagi banyak orang "(Matius 20:26-28). Dalam dunia Kristen, semua kepemimpinan harus kepemimpinan yang melayani.

Kesalahpahaman umum di antara mereka yang ingin berolahraga peran kepemimpinan atas orang lain adalah bahwa ia datang dengan kemuliaan, kekuasaan, dan posisi kehormatan. Bahkan, seperti keyakinan yang salah adalah kesempatan untuk perkataan Yesus dalam ayat di atas. Yakobus dan Yohanes baru saja meminta Yesus untuk menempatkan mereka di sisi-Nya ketika Dia diasumsikan takhta-Nya di dalam kerajaan yang akan datang. Akibatnya, murid-murid lainnya menjadi marah pada arogansi permintaan mereka (Markus 10:41). Dan sebagai pelajaran, Yesus model gaya hamba sejati dari kepemimpinan. Dia, Tuhan berinkarnasi, membungkuk dan membasuh kaki mereka, mengajarkan mereka ukuran sebenarnya memimpin dengan melayani orang lain pertama (Yohanes 13:12-17).

Kata "hamba" dalam Matius 20:27 berarti "budak." Tidak hamba setiap budak, tapi budak setiap hamba. Ini adalah komentar menyedihkan dalam gereja saat ini yang telah kita banyak selebriti, tetapi pelayan sangat sedikit. Ada banyak orang yang ingin "otoritas" (Matius 20:25), tetapi hanya sedikit yang ingin mengambil handuk dan baskom cuci dan kaki. Paulus mengingatkan kita bahwa sikap kita adalah untuk menjadi seperti yang Kristus dalam kita mempertimbangkan orang lain lebih dari diri kita sendiri dan melakukan apa-apa keluar dari kesombongan atau egoisme. Sebaliknya kita melihat keluar untuk kepentingan orang lain (Filipi 2:3-4). Dalam pengertian ini, maka, setiap orang Kristen adalah pelayan.

Terutama titik fokus dari kepemimpinan yang melayani dalam gereja adalah: "Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, sehingga tubuh Kristus dapat dibangun" (Efesus 4:12). Ini berarti dengan Kristus sebagai kepala jemaat, tubuh seluruh jemaat disajikan dalam tindakan memberikan kepemimpinan. Ini bukan hanya pemimpin gereja yang menjadi sadar akan tempat mereka di kaki salib, tetapi semua orang-orang dalam tubuh Kristus. Kita semua saling menyerahkan diri kita kepada Yesus seperti Dia tunduk pada Bapa. Dari sudut pandang kepemimpinan hamba alkitabiah tidak hanya bebas dari penyalahgunaan kekuasaan dan paksaan, tetapi pertama dan terutama berdasarkan saling menghormati dan cinta satu sama lain.

Seorang pemimpin hamba berusaha untuk berinvestasi sendiri ke dalam kehidupan umat-Nya sehingga secara keseluruhan, komunitas gereja ditantang untuk tumbuh menjadi lebih seperti Kristus. Hal ini ditunjukkan dalam kesediaan mereka untuk memberikan diri untuk memenuhi kebutuhan, tetapi belum tentu keinginan rakyat mereka. Seperti orangtua yang baik, pemimpin pelayan sejati mengetahui perbedaan antara kebutuhan rohani anak-anak rohaninya dan keinginan egois dan keinginan mereka.

Intinya untuk penerapan kepemimpinan yang melayani adalah bahwa kita tidak meniru contoh-contoh dunia: contoh kita adalah Yesus, yang datang sebagai seorang hamba. Oleh karena itu, misi kami adalah untuk melayani satu sama lain, untuk memberikan diri. Kristus datang untuk memberikan hidup-Nya. Kami memberikan hidup kami tidak hanya dalam pelayanan kepada-Nya, tetapi untuk sesama kita, termasuk di gereja dan di luar itu (Markus 12:31).
________________________________________
Yesus berkata kepadanya, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. - John 14:6 Tidak ada yang datang kepada Bapa kecuali melalui aku - Yohanes 14:6.

Gelegar Kemerdekaan


Dalam rangka Kemerdekaan RI ke-66, Penerbit Agape mengadakan paket diskon 30% hingga 60%. Kesempatan ini berlaku hanya dari tanggal 20 Juli-20 September 2011. Informasi 081394401799

Rabu, 01 Juni 2011

SOW Program Sertifikat


Mari bergabunglah bersama kami dalam SOW kelas Sertifikat dengan materi-materi yang menarik dan membuka wawasan Anda dalam dunia penulisan, serta Anda akan dibelaki dengan dasar kebenaran firman Tuhan, sehingga bisa menjadi pewarta Inil. Informasi lihat di www.sekolahmenulisalkitabiah.blogspot.com atau 081394401799.

Kamis, 14 April 2011

Buku Baru


Telah terbit buku literatur "Menyusun Kata-kata Merangkai Kalimat", karya Tony Tedjo diterbitkan oleh Penerbit Agape. Membahas mengenai pengertian menulis, mengapa kita perlu menulis, dan apa keuntungannya. Dibahas juga mengenai pengertian buku, mengapa kita menulis buku, apa keuntungannya kita membuat buku. Disertai dengan latihan mengerjakan soal sehingga lebih mudah untuk membuat sebuah buku. Dapatkan seharga Rp20.000. Untuk 500 pemesan pertama beli 2 dapat 3. Pesan ke 081394401799 atau penerbitagape@gmail.com.

Segera Terbit!


Buku ini akan membahas mengenai bagaimana sejarah perkembangan buku hingga sekarang, dilengkapi tips prakstis untuk menulis buku dan menerbitkan buku sendiri. Sangat baik untuk melengkapi koleksi literatur Anda. Pesan sekarang dan dapatkan diskon khususnya 30%. Akan terbit Juni 2011. Khusus bagi 200 pembeli pertama diskon 30% ditambah 10%.

Minggu, 19 Desember 2010

PENGORBANAN

Suatu kali terjadi perampokkan bank di sebuah kota. Pelaku kabur dengan membawa uang curian senilai Rp150 juta. Polisi sudah menyelidiki kasus ini, dan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pelakunya adalah anak dari kepala polisi di kota tersebut. Setelah kepala polisi ini mengetahui siapa pelaku perampokan bank tersebut, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk segera menangkap perampok tersebut. Akhirnya si perampok ini tertangkap sedang bersenang-senang menghabiskan uang hasil rampokannya di sebuah bar. Perampok ini kemudian dibawa ke kantor polisi dan langsung dimasukkan ke dalam sel sambil menunggu keputusan hakim di pengadilan.
Keesokan harinya, pengadilan memutuskan untuk menghukum perampok ini 10 tahun penjara. Papah pemuda ini, yang juga seorang kepala polisi, tidak bisa berbuat banyak. Dia harus memenuhi hukum yang berlaku. Di satu sisi keadilan harus ditegakkan, namun di sisi lain dia mengasihi anaknya. Akhirnya, malam hari, papahnya masuk ke sel di mana anaknya ini di penjara dan menasehati agar anaknya segera keluar, dan posisinya digantikan dengan dirinya. Sehingga yang ada di sel penjara adalah kepala polisi, bukan si perampok yang adalah anak kepala polisi ini.
Cerita di atas mengandung nilai pengorbanan. Di mana seorang Papah, yang adalah kepala polisi, mau menggantikan posisi anaknya di penjara. Inilah arti sebuah pengorbanan. Bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah sampai memberikan nyawanya demi orang lain. Sepanjang sejarah belum pernah ada orang yang demi menyelamatkan seisi dunia ini, dia merelakan dirinya, kecuali hanya Yesus. Dia yang adalah Allah mau menyerahkan diri-Nya untuk mati tersalib dengan tujuan agar semua manusia yang telah berdosa, diselamatkan. Termasuk bagi orang-orang yang sudah meninju-Nya, mencambuk-Nya, meludahi-Nya, dan menghujat-Nya.
Pengorbanan itu sendiri sebenarnya ada beberapa tingkatan, yaitu: Satu, korban waktu. Biasanya ini dalam dunia pekerjaan atau pelayanan. Seringkali harus mengorbankan waktu-waktu yang ada untuk menyelesaikan tugas kantor atau tugas pelayanan di gereja. Dua, korban perasaan. Pada waktu kita sedang memberitakan Injil kepada teman atau tetangga kita, mereka malah mengejek dan mengolok-olok. Di sini yang dikorbankan adalah perasaannya. Tiga, korban pikiran dan tenaga. Pada tingkatan ini sedikit lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Biasanya ada target yang hendak dicapai, sampai-sampai seseorang mau merelakan tenaga dan pikirannya untuk hal tersebut. Empat, korban nyawa bagi orang yang dikasihinya. Dalam tingkat keempat ini bisa saja ada orang yang sampai mau menyerahkan nyawanya demi orang yang dicintaainya. Misalnya seorang ayah terhadap anaknya. Ayahnya rela mati asalkan anaknya hidup. Lima, korban nyawa bagi musuhnya. Tingkat kelima ini boleh dikata tidak ada seorang pun yang pernah melakukannya. Tidak pernah ada manusia yang mau menyerahkan nyawanya. Hanya Yesus Kristus saja yang sudah melakukannya di kayu salib untuk menggantikan posisi manusia yang berdosa, yang seharusnya dihukum, menjadi orang bebas.
Meski kita tidak bisa seperti yang Yesus Krisus sudah lakukan, setidaknya kita mau berkorban, entah waktu, tenaga dan pikiran, perasaan, maupun nyawa bagi orang yang dikasihi. Pengorbanan ini selalu menuntut adanya sesuatu yang bagi kita dianggap berharga untuk diberikan kepada orang lain, sehingga orang tersebut mendapat pertolongan atau bantuan.
Salah satu contoh bentuk pengorbanan antara lain seperti yang saya lihat dari kegiatan yang dilakukan sebuah gereja besar di Palembang. Setiap hari Minggu, khususnya dalam ibadah raya jam 2 sengaja dinamakan ibadah misi, disiapkan berbagai angkot dari berbagai jurusan dan wilayah untuk mengangkut orang-orang yang kurang mampu menuju ke gereja. Biasanya hadir sekitar 600-700 orang. Di gereja diberitakan firman Tuhan mengenai berita keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pada waktu pulang, semua jemaat yang hadir bisa menukarkan kupon yang sebelumnya sudah dibeli pada hari Kamis dengan harga Rp5000, untuk ditukarkan dengan sembako (3 kg beras dan 4 bungkus indomie). Pembagian sembako ini dilakukan juga di beberapa cabang gereja tersebut. Sehingga orang-orang yang kurang mampu cukup terbantu dengan bantuan tersebut. Gereja ini setiap minggu harus mengeluarkan dana puluhan juta untuk kegiatan ini. Pengorbanan yang dilakukan tidak hanya waktu, tenaga, dan uang, tetapi juga perhatian. Sikap ini terbukti memberkati banyak orang.
Ada banyak pengorbanan yang dapat kita perbuat untuk membantu orang lain. Sudahkah kita berkorban bagi mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan kita? Inilah saatnya kita mempraktekkan kasih Yesus di tengah dunia ini. Supaya kita bisa menjadi “garam dan terang”. Tuhan Yesus memberkati. (Tony Tedjo, Pendiri dan Ketua SOW, dosen, penulis buku, dan hamba Tuhan)

MENGEMBANG TAK TERBATAS


MENGEMBANG TAK TERBATAS
Pdp. Tony Tedjo, S.Th., M.Th., D.Th.(C)
Teks: Matius 25:14-30

Dalam perumpamaan Tuhan Yesus mengenai talenta, diceritakan bahwa ada seorang tuan yang hendak bepergian dan meminjamkan sebagian hartanya kepada ketiga hambanya agar mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Masing-masing hamba diberikan lima talenta, dua talenta, dan satu talenta. Untuk satu talenta dalam Perjanjian Baru bernilai 6000 dinar, atau nilainya ini setara dengan upah pekerja selama 6000 hari (sekitar 16 tahun 6 bulan bekerja). Bila dibandingkan dengan nilai upah pekerja per hari pada masa kini, yaitu Rp70.000, maka satu talenta senilai Rp420.000.000 (empat ratus dua puluh juta rupiah). Jumlah yang sangat besar. Yang menerima 5 talenta berarti dia memperoleh pinjaman uang sebesar Rp2.100.000.000 (dua milyar seratus juta rupiah). Sedangkan yang menerima 2 talenta memperoleh pinjaman sebesar Rp840.000.000 (delapan ratus empat puluh juta rupiah). Dan yang menerima 1 talenta dia menerima pinjaman sebesar Rp420.000.000. Perbedaan besarnya pinjaman tersebut disesuaikan dengan kesanggupan masing-masing hamba. Semakin besar diberi pinjaman berarti semakin besar dia dituntut untuk mempertanggungjawabkannya kepada tuannya.
Setelah uang pinjaman itu berada di tangan mereka, maka ketiganya langsung memakai uang tersebut. Hamba yang diberi uang sebesar Rp2,1 milyar memilih untuk berdagang (misalnya jual beli mobil). Dan setelah sekian lama, maka didapati bahwa keuntungan yang diperoleh hasil berdagang jual beli mobil sebesar Rp2,1 milyar. Jadi kini dia memiliki uang sebesar Rp4,2 milyar.
Hamba kedua yang diberi modal sebesar Rp840 juta memakai uang tersebut untuk berjualan handpone. Dan ternyata, setelah sekian lama, diperoleh keuntungan sebesar Rp840 juta. Sehingga kini uangnya menjadi Rp1,68 milyar.
Sedangkan hamba yang ketiga tidak mau mengusahakan untuk berkembang menjadi berkali lipat. Dia hanya menyimpan saja uang pinjaman sebesar Rp420 juta tersebut di rumahnya. Dia beranggapan bahwa karena tuannya itu jahat dan hanya mau mengambil keuntungan darinya saja untuk kepentingan pribadinya. Jadi setelah beberapa waktu lamanya, uang itu tetap berjumlah Rp420 juta.
Setelah beberapa waktu lamanya, tuan ketiga hamba tersebut datang dan memanggil ketiga hambanya tersebut untuk memberi pertanggungjawabkan uang yang dipinjamkannya. Kepada hamba yang pertama dan kedua, karena mereka sudah mengupayakan uang pinjaman tersebut menjadi dua kali lipat, maka mereka mendapatkan kebahagiaan dari tuannya (diberi hadiah). Sedangkan kepada hamba ketiga yang tidak mengembangkan uang pinjaman tuannya, tidak mendapatkan hadiah, malah uang tersebut diambil dan diberikan kepada hamba yang dipercaya lima talenta. Selain itu, hamba yang dikatakan jahat oleh tuannya tersebut mendapatkan hukuman (di penjara).

Aplikasi
Setiap orang diberikan oleh Tuhan talenta (bakat atau kemampuan tertentu) yang jumlahnya berbeda-beeda, sesuai dengan kemampuan tiap-tiap orang dalam mengelolanya. Hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak diberikan kemampuan lebih oleh Tuhan. Setidaknya setiap orang tersebut memiliki satu kemampuan yang unik. Bila ada yang belum menyadari kemampuannya (talenta), dia harus menggalinya sampai bakat atau kemampuannya itu muncul ke permukaan.
Sebagai mahasiswa yang diberikan kemampuan luar biasa oleh Tuhan, diharuskan untuk mengembangkannya menjadi berlipat ganda. Misalnya, seorang yang bisa bermain musik gitar, dia bisa mengembangkan dengan belajar musik drum, bass, dan keyboard. Sehingga dia bisa memainkan semua alat musik tersebut. Seorang yang diberi talenta bernanyi bisa mengembangkannya sehingga dia tidak hanya menjadi penyanyi, tapi sekaligus menjadi pencipta lagu, bahkan menjadi produser lagu.
Hal yang harus diperhatikan bukanlah seberapa banyak talenta yang dimiliki seseorang, tetapi lebih kepada apakah orang itu mampu untuk melipatgandakan talenta yang sudah Tuhan percayakan kepadanya. Sebab pada waktu kita setia, meski hanya memiliki satu talenta, tetapi mau mengembangkannya. Maka Tuhan akan menambahkan dari satu talenta menjadi dua, tiga, empat atau lima talenta. Hal yang dituntut adalah kesetiaan. ”Barangsiapa setia dalam perkara yang kecil, dia akan dipercayakan hal-hal yang lebih besar.”
Jangan sampai suatu kali nanti ketika kita menghadap Tuhan, dikatakan sebagai hamba yang malas dan jahat. Marilah kita mengembangkan talenta yang sudah Tuhan percayakan kepada kita secara maksimal. Selagi ada waktu dan ada kesempatan, mengapa tidak kita pergunakan dengan sebaik mungkin bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Dan Tuhan akan memberikan hadiah kepada orang yang setia dan taat menuruti kehendak-Nya.