Minggu, 19 Desember 2010

PENGORBANAN

Suatu kali terjadi perampokkan bank di sebuah kota. Pelaku kabur dengan membawa uang curian senilai Rp150 juta. Polisi sudah menyelidiki kasus ini, dan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pelakunya adalah anak dari kepala polisi di kota tersebut. Setelah kepala polisi ini mengetahui siapa pelaku perampokan bank tersebut, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk segera menangkap perampok tersebut. Akhirnya si perampok ini tertangkap sedang bersenang-senang menghabiskan uang hasil rampokannya di sebuah bar. Perampok ini kemudian dibawa ke kantor polisi dan langsung dimasukkan ke dalam sel sambil menunggu keputusan hakim di pengadilan.
Keesokan harinya, pengadilan memutuskan untuk menghukum perampok ini 10 tahun penjara. Papah pemuda ini, yang juga seorang kepala polisi, tidak bisa berbuat banyak. Dia harus memenuhi hukum yang berlaku. Di satu sisi keadilan harus ditegakkan, namun di sisi lain dia mengasihi anaknya. Akhirnya, malam hari, papahnya masuk ke sel di mana anaknya ini di penjara dan menasehati agar anaknya segera keluar, dan posisinya digantikan dengan dirinya. Sehingga yang ada di sel penjara adalah kepala polisi, bukan si perampok yang adalah anak kepala polisi ini.
Cerita di atas mengandung nilai pengorbanan. Di mana seorang Papah, yang adalah kepala polisi, mau menggantikan posisi anaknya di penjara. Inilah arti sebuah pengorbanan. Bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah sampai memberikan nyawanya demi orang lain. Sepanjang sejarah belum pernah ada orang yang demi menyelamatkan seisi dunia ini, dia merelakan dirinya, kecuali hanya Yesus. Dia yang adalah Allah mau menyerahkan diri-Nya untuk mati tersalib dengan tujuan agar semua manusia yang telah berdosa, diselamatkan. Termasuk bagi orang-orang yang sudah meninju-Nya, mencambuk-Nya, meludahi-Nya, dan menghujat-Nya.
Pengorbanan itu sendiri sebenarnya ada beberapa tingkatan, yaitu: Satu, korban waktu. Biasanya ini dalam dunia pekerjaan atau pelayanan. Seringkali harus mengorbankan waktu-waktu yang ada untuk menyelesaikan tugas kantor atau tugas pelayanan di gereja. Dua, korban perasaan. Pada waktu kita sedang memberitakan Injil kepada teman atau tetangga kita, mereka malah mengejek dan mengolok-olok. Di sini yang dikorbankan adalah perasaannya. Tiga, korban pikiran dan tenaga. Pada tingkatan ini sedikit lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Biasanya ada target yang hendak dicapai, sampai-sampai seseorang mau merelakan tenaga dan pikirannya untuk hal tersebut. Empat, korban nyawa bagi orang yang dikasihinya. Dalam tingkat keempat ini bisa saja ada orang yang sampai mau menyerahkan nyawanya demi orang yang dicintaainya. Misalnya seorang ayah terhadap anaknya. Ayahnya rela mati asalkan anaknya hidup. Lima, korban nyawa bagi musuhnya. Tingkat kelima ini boleh dikata tidak ada seorang pun yang pernah melakukannya. Tidak pernah ada manusia yang mau menyerahkan nyawanya. Hanya Yesus Kristus saja yang sudah melakukannya di kayu salib untuk menggantikan posisi manusia yang berdosa, yang seharusnya dihukum, menjadi orang bebas.
Meski kita tidak bisa seperti yang Yesus Krisus sudah lakukan, setidaknya kita mau berkorban, entah waktu, tenaga dan pikiran, perasaan, maupun nyawa bagi orang yang dikasihi. Pengorbanan ini selalu menuntut adanya sesuatu yang bagi kita dianggap berharga untuk diberikan kepada orang lain, sehingga orang tersebut mendapat pertolongan atau bantuan.
Salah satu contoh bentuk pengorbanan antara lain seperti yang saya lihat dari kegiatan yang dilakukan sebuah gereja besar di Palembang. Setiap hari Minggu, khususnya dalam ibadah raya jam 2 sengaja dinamakan ibadah misi, disiapkan berbagai angkot dari berbagai jurusan dan wilayah untuk mengangkut orang-orang yang kurang mampu menuju ke gereja. Biasanya hadir sekitar 600-700 orang. Di gereja diberitakan firman Tuhan mengenai berita keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pada waktu pulang, semua jemaat yang hadir bisa menukarkan kupon yang sebelumnya sudah dibeli pada hari Kamis dengan harga Rp5000, untuk ditukarkan dengan sembako (3 kg beras dan 4 bungkus indomie). Pembagian sembako ini dilakukan juga di beberapa cabang gereja tersebut. Sehingga orang-orang yang kurang mampu cukup terbantu dengan bantuan tersebut. Gereja ini setiap minggu harus mengeluarkan dana puluhan juta untuk kegiatan ini. Pengorbanan yang dilakukan tidak hanya waktu, tenaga, dan uang, tetapi juga perhatian. Sikap ini terbukti memberkati banyak orang.
Ada banyak pengorbanan yang dapat kita perbuat untuk membantu orang lain. Sudahkah kita berkorban bagi mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan kita? Inilah saatnya kita mempraktekkan kasih Yesus di tengah dunia ini. Supaya kita bisa menjadi “garam dan terang”. Tuhan Yesus memberkati. (Tony Tedjo, Pendiri dan Ketua SOW, dosen, penulis buku, dan hamba Tuhan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar